Pembuatan Larutan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

Praktikum kali ini diawali dengan “Pembuatan Larutan”. Menurut Utami (2007), larutan merupakan campuran homogen antara pelarut atau solvent (jumlahnya lebih banyak) dan zat terlarut atau solute (jumlahnya sedikit). Zat-zat pembentuk campuran homogen bercampur secara merata, tidak dapat dibedakan, serba sama, tidak memiliki bidang batas, dan mempunyai sifat yang sama di seluruh bagian. Komposisi solvent dan solute dalam larutan dinyatakan sebagai konsentrasi larutan, dan untuk proses pencampuran solvent dan solute dalam larutan disebut proses solvasi.
Sedangkan menurut Brady (1999), larutan adalah campuran molekul (atom atau ion dalam beberapa hal), biasanya molekul-molekul pelarut agak berjauhan dalam larutan dibanding dalam pelarut murni.
Pembuatan larutan pada praktikum kali ini, nantinya dipergunakan untuk keperluan praktikum selanjutnya.
Ada beberapa nilai yang telah diketahui dan yang harus dicari terlebih dahulu untuk menentukan perbandingan antara volume dan gram dalam larutan. Yaitu dengan mengetahui beberapa satuan konsentrasi, di antaranya :
a) Persentase (%)
Persentase menyatakan jumlah gram terlarut tiap 100 gram larutan.

P : persen berat zat terlarut
w : jumlah gram zat terlarut
w0 : jumlah gram zat pelarut.
b) Fraksi mol (X)
Fraksi mol menyatakan perbandingan jumlah mol suatu zat larutan terhadap jumlah mol seluruh zat dalam larutan.
c) Molaritas (M)
Molaritas menyatakan jumlah zat terlarut di dalam tiap 1 L larutan.

Ket :
M : Molaritas (M)
n : mol per larutan (m)
V : Volume (L)
d) Molalitas (m)
Molalitas menyatakan jumlah zat terlarut dalam tiap 1000 gram pelarut.
m = x
Ket :
G : berat zat terlarut (gram)
p : berat pelarut (gram)
e) Normalitas (N)
Normalitas menyatakan jumlah gram ekivalen zat terlarut dalam tiap liter larutan (grek).
grek = mol x jumlah H+ atau OH-
f) Rumus pengenceran larutan
V1M1 = V2M2
V1M1 + V2M2 = V3M3
Ket :
V1 : volume sebelum diencerkan
V2 : volume setelah diencerkan
M1 : konsentrasi sebelum diencerkan
M2 : konsentrasi setelah diencerkan
V3 : volume campuran
M3 : konsentrasi campuran
Pembuatan larutan asam sebaiknya dilakukan di dalam ruangan asam, karena jika larutan tersebut tidak dilakukan di dalam ruang asam maka asam-asam dalam wadah akan menguap yang mengakibatkan larutan tersebut kehilangan asamnya, reaksi yang seharusnya tejadipun mungkin akan terbentuk secara tidak sempurna atau mungkin tidak terjadi reaksi sama sekali. Selama praktikum di dalam ruang asam sebaiknya blower dihidupkan agar reagen yang dihasilkan tidak terhirup oleh praktikan.
Larutan yang dibuat pada praktikum kali ini antara lain NaCl jenuh, 50 mL Na-thiosulfat 0.1N, 50 mL KOH 0.1N, Alkohol 95% netral, Indikator PP 1%, 50 mL NaOH 10%, NaOH 0.1N, dan 50 mL asam asetat 0.01N.

 Pembuatan NaCl jenuh
Prosedur yang dilakukan relatif mudah, hanya menyiapkan 50 mL aquades kemudian ke dalam aquades tersebut ditambahkan NaCl sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga NaCl tidak dapat larut lagi di dalam aquades. Ternyata untuk membuat 50 mL NaCl 0,1 N diperlukan NaCl sebanyak 15,481 gram.
Proses pelarutan zat terjadi akibat adanya tarikan antarpartikel komponen murni yang tergantikan dengan tarikan antara pelarut dan terlarut. Apabila pelarut dan terlarut sama-sama memiliki sifat polar maka akan terbentuk suatu struktur zat pelarut yang mengelilingi zat terlarut. Bila komponen terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut, pada suatu titik, komponen terlarut yang ditambahkan tidak akan dapat larut lagi. Ini berarti jumlah zat terlarut yang dapat larut dalam pelarut tersebut sudah maksimal.( McMurryFay, 431)
Suhu tinggi mengakibatkan partikel-partikel zat akan bergerak lebih cepat dibandingkan pada suhu rendah dan kontak antara terlarut dengan pelarut menjadi lebih sering dan lebih efektif serta menyebabkan terlarut menjadi lebih mudah larut pada suhu tinggi. Contoh, kelarutan NaCl pada suhu 0°C akan lebih rendah dibandingkan dengan kelarutan NaCl pada suhu 50° maupun 100° C.
Berikut merupakan sifat fisik padatan NaCl dan larutan NaCl jenuh.
Tabel 5.1.1. Pengamatan Sifat Fisik Padatan NaCl dan Larutan NaCl Jenuh
No. Nama Sifat Fisik
Bentuk Warna Bau Endapan Kejernihan
1 Padatan NaCl Serbuk Putih Tidak Berbau - -
2 Larutan NaCl Jenuh Cair Tidak Berwarna Sedikit berbau Ada Jernih
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)
Berikut merupakan perubahan yang terjadi selama pembuatan NaCl jenuh.
Tabel 5.1.2. Pengamatan Perubahan yang Terjadi Selama Pembuatan NaCl Jenuh
No. Perlakuan Perubahan yang Terjadi
1 Penambahan NaCl ke dalam akuades Tidak terjadi perubahan
2 Semua NaCl telah dilarutkan Larutan menjadi sedikit berbau, jernih, dan terdapat sedikit endapan.
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)
Berikut merupakan sifat fisik dan kimia NaCl menurut ScienceLab.com :
Keadaan fisik dan penampilan: Solid. (Bubuk kristal padat.)
Bau: Sedikit.
Rasa: Saline.
Berat Molekul : 58,44 g / mol
Warna: Putih.
pH (1% soln / air): [. Netral] 7
Titik Didih: 1413 ° C (2575,4 ° F)
Titik Leleh: 801 ° C (1473,8 ° F)
Suhu kritis: Tidak tersedia.
Gravitasi Spesifik: 2,165 (Air = 1)
Tekanan Uap: Tidak dipakai.
Kepadatan uap: Tidak tersedia.
Volatilitas: Tidak tersedia.
Ambang Bau: Tidak tersedia.
Air / Minyak Dist. Coeff:. Tidak tersedia.
Ionicity (dalam Air): Tidak tersedia.
Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air.
Kelarutan: Mudah larut dalam air dingin, air panas. Larut dalam gliserol, dan amonia. Sangat sedikit larut dalam alkohol. Larut dalam Asam klorida.
Garam klorida merupakan padatan kristal putih atau tidak berwarna. Logam golongan 1 mudah bereaksi dengan halogen: 2M(s) + Cl2(g) ± 2MCl(s) (reaksi redoks). Produk garam ,M+X-, padatan ionik kristal putih yang larut dalam air dan pH larutannya 7. Padatan kristal yang mempunyai titik leleh dan titik didih tinggi. Padatannya bukan merupakan penghantar listrik tetapi lelehan atau larutannya dapat menghantar listrik.
Larutan tak jenuh adalah larutan yang mengandung solute kurang dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh atau larutan yang partikel- partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa melarutkan zat). Sedangkan larutan jenuh adalah larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan mengadakan kesetimbangan dengan solute padatnya atau larutan yang partikel- partikelnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi maksimal).

 Pembuatan 50 mL Na-tiosulfat 0,1 N
Bila dibandingkan dengan pembuatan NaCl jenuh, pembuatan Na–tiosulfat relatif lebih sulit. Pertama, aquades dipanaskan hingga mendidih kemudian didinginkan. Pemanasan aquades tersebut memiliki fungsi untuk menghilangkan oksigen pada aquades agar tidak bereaksi dengan bahan yang akan dibuat larutan. Apabila aquades tidak dipanaskan maka oksigen tersebut akan bereaksi dengan bahan dan akan mengubah konsentrasi bahan sehingga konsentrasi bahan tersebut tidak sesuai dengan yang diinginkan. Langkah selanjutnya, Na-tiosulfat ditimbang sebesar 1,25 gram kemudian ditambahkan aaquades yang telah dingin tadi + 25 mL dan 0,005 gram Na2CO3. Diaduk hingga homogen kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur, dan ditambahkan aquades tadi hingga batas.
Berikut merupakan perhitungan berat padatan Na-tiosulfat yang digunakan:
N Na-tiosulfat
0,1 N
0,1 N
gram =
Ternyata berat padatan yang digunakan sebanyak 1,25 gram.
Tabel 5.2.1. Pengamatan Sifat Fisik Na-tiosulfat, Na2CO3 anhidrous, dan Larutan Na-tiosulfat Anhidrous.
No. Nama Sifat Fisik
Bentuk Warna Bau Endapan Kejernihan
1 Padatan Na-tiosulfat Kristal Tidak berwarna + - -
2 Na2CO3 anhidrous Serbuk Putih ++ - -
3 Larutan Na-tiosulfat anhydrous Cair Tidak berwarna - - jernih
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011)
Selama proses pembuatan larutan Na-tiosulfat tidak terlihat perubahan apapun, larutan tetap tidak berwarna, tidak berbau, ataupun berubah menjadi hangat.
Berikut merupakan sifat fisik dan kimia Na-tiosulfat :
Keadaan fisik dan penampilan: Cair.
Warna: tak berwarna Cerah.
pH (1% soln / air): Netral.
Titik didih: Nilai dikenal terendah adalah 100 ° C (212 ° F) (Air).
Gravity Spesifik: rata-rata tertimbang: 1.01 (Air = 1)
Tekanan Uap: Nilai tertinggi adalah 2,3 dikenal kPa (@ 20 ° C) (Air).
Kepadatan uap: Nilai tertinggi adalah 0,62 dikenal (udara = 1) (Air).
Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air.
Kelarutan: Mudah larut dalam air dingin, air panas. Tidak larut dalam aseton.
Berikut ini sifat fisik dan kimia Na2CO3 :
Keadaan fisik dan penampilan: Solid. (Bedak padat.)
Bau: Tidak berbau.
Rasa: Alkali.
Molekul Berat: 105,99 g / mol
Warna: Putih.
pH (1% soln / air): [. Dasar] 11,5
Titik didih: Tidak tersedia.
Melting Point: 851 ° C (1563,8 ° F)
Suhu kritis: Tidak tersedia.
Spesifik Gravity: Kepadatan: 2,532 (Air = 1)
Tekanan Uap: Tidak dipakai.
Kepadatan uap: Tidak tersedia.
Volatilitas: Tidak tersedia.
Ambang Bau: Tidak tersedia.
Air / Minyak Dist. Coeff:. Tidak tersedia.
Ionicity (dalam Air): Tidak tersedia.
Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air.
Kelarutan:
Larut dalam air panas, gliserol.
Sebagian larut dalam air dingin.
Tidak larut dalam aseton, alkohol.
Fungsi dari penambahan Na2CO3 adalah sebagai pengawet. Jika tidak ditambahkan, maka larutan tidak tahan lama dan sangat mudah rusak.

 Pembuatan 50 mL KOH 0,1 N
Pertama, KOH ditimbang sebanyak 0,2805 gram kemudian ditambahkan aquades tadi + 25 mL. Diaduk hingga homogen kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur, dan ditambahkan aquades tadi hingga batas.
Berikut merupakan perhitungan volume KOH yang digunakan:
V1 . N1 = V2 . N2
50 . 0,1 = x . 0,5
x = 10 mL
Ternyata volume KOH yang digunakan adalah sebesar 10 mL.
Berikut merupakan sifat fisik padatan KOH dan larutan KOH 0,1 N.

Tabel 5.3.1. Pengamatan Sifat Fisik Padatan KOH dan Larutan KOH 0,1 N
No. Nama Sifat fisik
Warna Bau Berat Kejernihan Bentuk
1 Padatan KOH Putih Tidak berbau 0,295 gram -

Kristal
2 Larutan KOH 0,1 N Tidak Berwarna Tidak berbau - Jernih (Tembus cahaya) Cair
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)
Berikut merupakan perubahan yang terjadi selama pembuatan larutan KOH 0,1 N.
Tabel 5.3.2. Pengamatan Perubahan yang Terjadi Selama Pembuatan Larutan KOH 0,1 N
No. Jenis Perubahan Perubahan yang Terjadi
1 Bentuk Kristal cair

2 Warna Putih tidak berwarna

3 Bau Tidak ada perubahan
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)
Menurut ScienceLab.com, sifat fisik dan kimia KOH sebagai berikut :
Bentuk: Solid
Penampilan: putih atau kuning, kaustik, licin seperti sabun, dapat menghantarkan arus listrik, mengubah warna lakmus merah menjadi biru.
Bau: tidak berbau
Rasa : pahit
pH: 13,5 (0,1 M larutan)
Titik Didih: 2408 derajat F
Pembekuan / Melting Point: 680 derajat F
NFPA Rating: (perkiraan) Kesehatan: 3; mudah terbakar: 0; Reaktivitas: 1
Kelarutan: Larut dalam air
Spesifik Gravity / Kepadatan: 2,04
Molekul Rumus: KOH
Molekul Berat: 56,1047

 Pembuatan alkohol 95% netral
Pertama, 50 mL alkohol 95% dimasukkan ke dalam gelas ukur, kemudian ditambahkan 5 tetes indikator PP 1% dan tetes demi tetes KOH 0,1 N serta diaduk hingga berwarna pink.
Selama proses berlangsung, KOH yang diperlukan adalah sebanyak 65 tetes. Alkohol 95% memiliki sifat fisik yaitu tidak berwarna dan berbau sangat menyengat. Sedangkan alkohol 95% netral sifat fisiknya adalah berwarna bening merah muda dan juga berbau menyengat. Selama proses pembuatan alkohol 95% netral perubahan yang terjadi adalah, pada tetesan ke-5 KOH larutan belum menunjukan reaksi, pada tetesan ke-40 KOH larutan mulai berubah warna. Setelah itu, pada tetesan ke-60 KOH larutan berubah warna menjadi merah muda dan pada tetesan ke-65 KOH larutan berubah menjadi warna bening merah muda.
Berikut merupakan sifat fisik alkohol 95% dan alkohol 95% netral.
Tabel 5.4.1 Pengamatan Sifat Fisik Alkohol 95 % dan Alkohol 95% Netral
No. Nama Sifat Fisik
Bentuk Warna Bau Endapan Kejernihan
1 Alkohol 95 % Cair Tidak berwarna Menyengat - Jernih
2 Alkohol 95% Netral
Cair Merah muda Menyengat - Jernih
(Sumber : Dokumentasi Prubadi, 2011)
Berikut merupakan perubahan yang terjadi selama pembuatan alkohol 95% netral.
Tabel 5.4.2. Pengamatan Perubahan yang Terjadi Selama Pembuatan Alkohol 95% Netral
No Perlakuan Perubahan yang Terjadi
1 Tetesan ke 5 KOH Belum ada perubahan
2 Tetesan ke 40 KOH Mulai terjadi perubahan warna pada larutan
3 Tetesan ke 60 KOH Warna larutan mulai menjadi merah muda
4 Tetesan ke 65 KOH Larutan menjadi berwarna bening merah muda
(Sumber : Dokumentasi Prubadi, 2011)
Berikut merupakan sifat fisik dan kimi alkohol 95%.
Bentuk fisik : Cairan
Bau : khas alcohol
Rasa : Terbakar, tajam.
Berat molekul : Tidak dipakai
Warna : tak berwarna
pH : Netral
Titik didih : > 760C (168,80F)
Titik baku : -113,840C (-172,90F)
Masa jenis : 0,789 – 0,806
Tekanan uap : 5.7 kPa
Densitas : 1,59 – 1,62
Tingkat penguapan : 1,7
Solubilitas / kelarutan : larut dalam air dingin, air panas, methanol, dietil eter, dan aseton.
Pembuatan alkohol 95% netral tidak menggunakan alkohol 100% karena tidak stabil dan tidak dapat disimpan dalam botol reagen karena alkohol memiliki sifat mudah menguap. Selain itu, fungsi penambahan indikator PP 1% adalah untuk mengetahui apakah suatu larutan bersifat asam,basa, atau netral. Indikator berwarna putih atau bening pada suasana asam dan berwarna merah pada suasana basa, sedangkan berwarna merah muda pada suasana netral.
 Pembuatan NaOH 10% dan NaOH 0,1%.
Untuk NaOH10%, pertama NaOH ditimbang sebanyak 5 gram kemudian ditambahkan aquades yang dibuat pada prosedur awal sebanyak + 25 mL. Diaduk hingga homogen kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur, dan ditambahkan aquades tadi hingga batas. Sedangkan untuk prosedur NaOH 0,1 N, pertama NaOH ditimbang sebanyak 0,2 gram kemudian ditambahkan aquades yang dibuat pada prosedur awal sebanyak + 25 mL. Diaduk hingga homogen kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur, dan ditambahkan aquades tadi hingga batas.
Berikut merupakan sifat fisik padatan NaOH, larutan NaOH 10%, dan larutan NaOH 0,1 N.
Tabel 5.7.1. Pengamatan Sifat Fisik Padatan NaOH, Larutan NaOH 10%, dan Larutan NaOH 0,1 N.
No. Nama Sifat Fisik
Bentuk Warna Bau Endapan Kejernihan
1 Padatan NaOH Kristal Putih - - -
2 Larutan NaOH 10% Cair Tidak berwarna - - Jernih
3 Larutan NaOH 0,1 N Cair Tidak berwarna - - Jernih
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)
Berikut merupakan perubahan yang terjadi selama pembuatan NaOH 10% dan NaOH 0,1 N.
Tabel 5.7.2. Pengamatan Perubahan yang Terjadi Selama Pembuatan NaOH 10% dan NaOH 0,1 N
No. Nama Saat Ditambahkan Akuades Setelah Ditambahkan Akuades
1 Larutan NaOH 10% Larutan menjadi keruh, suhu naik, semakin lama larutan menjadi tidak berwarna Suhunya turun menjadi seperti semula.
2 Larutan NaOH 0,1 N Terdapat sedikit minyak di dinding beaker gelas Larutan menjadi bening, tidak berwarna, tidak terjadi endapan

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)
Perbedaan dari NaOH 10% dan NaOH 0,1 N dilihat dari persentase berat (%)digunakan untuk menyatakan perkiraan konsentrasi dari reagen laboratorium.
Berikut merupakan sifat fisik dan kimia NaOH.
Rumus molekul : NaOH
Massa molar : 39.99711 g/mol mol
Penampilan : putih solid, hidroskopis
Kepadatan : 2.13 g/cm 3
Titik lebur : 318 °C, 591 K, 604 °F
Titik didih : 1388 °C, 1661 K, 2530 °F
Kelarutan dalam air : 1110 g/L (20 °
Kelarutan dalam etanol : 139 g/L
Kelarutan dalam metanol : 238 g/L
Kelarutan dalam gliserol : Larut
Keasaman (pKa) : ~13
NaOH berwarna putih atau praktis putih, berbentuk pellet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab. mudah larut dalam air dan dalam etanol tetapi tidak larut dalam eter.
NaOH membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air, NaOH murni merupakan padatan berwarna putih. Senyawa ini sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida.

 Pembuatan 50 mL asam asetat 0,01 N
Pertama, 5 mL asam asetat 0,01 N dipipet dan dimasukkan ke dalam labu ukur. Kemudian ditambahkan aquades pada praktikum awal hingga batas lalu dikocok hingga homogen.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-.
Berikut merupakan sifat fisik asam asetat 0,1 N dan asam asetat 0,01 N.
Tabel 5.8.1. Pengamatan Sifat Fisik Asam Asetat 0,1 N dan Asam Asetat
0,01 N
Nama Sifat Fisik
Warna Bau Endapan
Asam asetat 0,1 N Tidak berwarna Asam menyengat Tidak ada
Asam asetat 0,01 N Tidak berwarna Asam Tidak ada
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)
Berikut merupakan sifat fisik dan kimia asam asetat menurut msds.chem.ox.ac.uk:
Sifat fisik :
Rumus Kimia : CH3COOH
Kadar : 99,8%
Bentuk : cairan tidak berwarna
Berat molekul : 60 kg/kmol
Titik didih : 117,87oC
Titik lebur : 16,6oC
Densitas (25oC) : 1,049 kg/L
 Spesifik gravitasi: 1,05
 Berat jenis uap air 2.07
 Tekanan uap 11 mm Hg pada 20 C, 20 mmHg pada 30 C
 Titik nyala: 40 C
 Ledakan batas: 4% – 16%
 Suhu penyalaan 426 C
Sifat Kimia
• Reaksi penyabunan
Asam asetat bila direaksikan dengan caustic soda menghasilkan Na asetat.
CH3COOH(l) + NaOH(S) CH3COONa + H2O …….. (9)
Asam asetat caustic soda Na Asetat air
• Esterifikasi
Asam asetat bila direaksikan dengan alkohol menghasilkan ester
CH3COOH + C5H11OH CH3COOC5H11 + H2O……..(10)
Pada pembuatan 50 ml CH3COOH 0,1 N, yang harus dicari terlebih dahulu adalah volume dari CH3COOH yang dibutuhkan, yaitu

VI. KESIMPULAN

Larutan merupakan campuran homogen antara pelarut atau solvent (jumlahnya lebih banyak) dan zat terlarut atau solute (jumlahnya sedikit). Zat-zat pembentuk campuran homogen bercampur secara merata, tidak dapat dibedakan, serba sama, tidak memiliki bidang batas, dan mempunyai sifat yang sama di seluruh bagian. Pembuatan larutan pada praktikum kali ini, nantinya dipergunakan untuk keperluan praktikum selanjutnya.
Pembuatan larutan asam sebaiknya dilakukan di dalam ruangan asam, karena jika larutan tersebut tidak dilakukan di dalam ruang asam maka asam-asam dalam wadah akan menguap yang mengakibatkan larutan tersebut kehilangan asamnya, reaksi yang seharusnya tejadipun mungkin akan terbentuk secara tidak sempurna atau mungkin tidak terjadi reaksi sama sekali.
Larutan yang dibuat pada praktikum kali ini antara lain NaCl jenuh, 50 mL Na-thiosulfat 0.1N, 50 mL KOH 0.1N, Alkohol 95% netral, Indikator PP 1%, 50 mL NaOH 10%, NaOH 0.1N, dan 50 mL asam asetat 0.01N.
Pada pembuatan larutan NaCl jenuh, padatan NaCl yang dibutuhkan adalah 10 gram. Pada pembuatan larutan Na-tiosulfat 0,1 N 50 mL, padatan Na-tiosulfat yang dibutuhkan adalah sebanyak 1,25 gram ditambahkan dengan 0,005 gram padatan Na2CO3. Pada pembuatan larutan KOH 0,1 N 50 mL, padatan KOH yang dibutuhkan adalah 0,2805 gram. Pada pembuatan larutan alkohol 95 % netral dibutuhkan 50 ml alcohol 95 % dan 5 tetes indikator PP 1 % serta larutan KOH sebesar 0.1 N. Pada pembuatan larutan indikator PP 1% 50 mL dibutuhkan 0,05 gram PP. Pada pembuatan larutan NaOH 10% 50 mL dibutuhkan 5 gram NaOH. Pada pembuatan larutan NaOH 0,1 N 50 ml dibutuhkan 0,2 gram NaOH. Dan pada pembuatan larutan Asam Asetat 0,01 N 50 mL dibutuhkan 5 mL.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara, Jakarta.
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Kartika, Surabaya.

Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Kartika, Surabaya.

Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia, Jakarta.

Utami, B. 2007. Kimia. Surakarta: CV. Haka MJ.

Vogel, A. I. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.

    • eka
    • Januari 19th, 2013

    terimakasih atas info nya… tugas saya terbantu sekali…. :)

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: