LAPORAN 2 (Cara Pembuatan Medium)

VI. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini saya mempelajari cara pembuatan medium. Agar dapat tumbuh dengan baik suatu mikroorganisme sangat memerlukan media sebagai tempat hidupnya. Media adalah substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan sesuai dengan lingkungannya. Kehidupan mikroorganisme tergantung pada nutrisi dalam substrat/medium dan faktor lingkungan yang baik, karena tidak semua bakteri, khamir dan kapang dapat tumbuh dengan satu medium yang sama. Jenis medium untuk pertumbuhan mikroorganisme sangat bervariasi, tergantung dari apa yang di jadikan dasar penanaman. Setelah melakukan praktikum, saya mendapatkan hasil pengamatan sebagai berikut.

Tabel 1. Perhitungan Kebutuhan Sampel

No

Kelompok

Media

Merk

Volume yang akan dibuat

Berat di kemasan

Perhitungan

1 1 NA Oxoid 100 ml 20 gram
2 2 NB Merck 100 ml 28 gram
3 3 PCA Oxoid 100 ml 22,5 gram
4 4 PDA Oxoid 100 ml 39 gram

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan empat macam media pertumbuhan mikroorganisme dimana ke empat media tersebut telah di perhitungkan terlebih dahulu. Medianya antara lain PCA (Polate Count Agar), NA (Nutrient Agar), NB (Nutrient Broth), dan PDA (Potato Dextrose Agar).

Tabel 2. Identifikasi Media

No

Kelompok

Medium

Warna

Bentuk

Komposisi

Fungsi

1 3 PCA Kuning keruh Padat Semi sintetik Umum
2 1 NA Kuning Padat Semi sintetik Umum
3 2 NB Kuning jernih Cair Semi sintetik Media pertumbuhan bakteri
4 4 PDA Kuning padat Semi sintetik Menumbuhkan kapang, khamir

Jenis medium untuk pertumbuhan mikroorganisme sangat bervariasi, tergantung dari apa yang di jadikan dasar penanaman. Berdasarkan bentuknya, medium dibagi 3 jenis, yaitu medium cair, medium semisolid, dan medium padat. Medium cair tidak menggunakan bahan pemadat seperti agar-agar, amilum, gelatin, dan selulosa. Medium semisolid adalah media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semisolid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Medium padat adalah media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat.

PCA, NA, dan PDA adalah media yang berbentuk padat. Sedangkan NB adalah media yang berbentuk cair. Masing-masing media memiliki komposisi yang berbeda-beda dan memiliki spesifikasi untuk mikroorganisme tertentu.

            Medium PCA yang digunakan dalam praktikum ini adalah PCA instan. PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas permukaan. PCA dibuat dengan melarutkan semua bahan (casein enzymic hydrolisate, yeast extract, dextrose, agar) hingga membentuk suspensi 22,5 g/L kemudian disterilisasi pada autoklaf (15 menit pada suhu 121°C). Media PCA ini baik untuk pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.

NA (Nutrient Agar)  adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan bacto agar. Na merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. NA juga di gunakan sebagai media kapang dan khamir.

NB (Nutrient Broth) merupakan media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair. Intinya sama dengan nutrient agar. Komposisi NB adalah beef extract dan pepton. NB digunakan sebagai media bakteri.

Untuk PDA biasanya digunakan untuk jenis mikroorganisme jamur (kapang) dan khamir seperti Candida albicans, Saccharomyces cerevisiae dan Aspergillus niger. PDA dibuat dari potongan kentang kasar dan dekstrosa (gula jagung) dan ditambah dengan agar sebagai pemadat. Kentang dan dekstrosa mengandung berbagai nutrien yang berguna bagi pertumbuhan mikroorganisme tersebut, karena adanya kandungan gula dan juga protein. PDA juga mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri.

Pembuatan medium-medium tersebut sudah dihitung sesuai kebutuhan, lalu ditimbang dengan neraca analitik agar lebih teliti. Media yang telah ditimbang kemudian dilarutkan dalam akuades sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Untuk mendapatkan larutan yang homogen, maka selanjutnya dilakukan pemanasan dalam water bath, agar larutan yang dibuat benar-benar homogen.

Mikroba dapat tumbuh dengan baik jika dalam suatu media tersebut memenuhi syarat-syarat, yaitu harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba, harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba yang ditumbuhkan tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba, dan harus berada dalam kondisi steril sebelum digunakan.

Pada praktikum kali ini juga saya mempelajari cara sterilisasi peralatan dan pengemasan, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik dimana alat penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan, dan kemasan dari segala macam bentuk kehidupan terutam mikro organism. Hal ini berarti mikroba kontaminan harus dimatikan. Untuk memperoleh kondisi yang steril dan bersih maka dilakukan sterilisasi. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di laboratorium mikrobiologi adalah dengan menggunakan panas, metode sterilisasi dengan menggunakan panas dibagi menjadi 2 cara, yaitu sterilisasi kering dan sterilisasi basah.

Sterilisasi kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak rusak, menyala, hangus, dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain alat-alat gelas (botol, tabung reaksi, cawan petri, dan lain-lain) dan bahan-bahan ceperti kertas, kain, dan kapas. Sterilisasi kering menggunakan oven pada suhu 70-80 derajat celcius selama 2 jam. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven.

            Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan perebusan dengan suhu 100 derajat celcius selama 10 menit, blansing dengan suhu 70-85 derajat Celsius selama 7-9 menit, pasteurisasi dengan suhu 72 derajat celcius selama 7 detik, dan menggunakan autoclave. Sterilisasi dengan autoclave menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15 menit dengan tekanan 1 Atm. Cara ini selain di gunakan untuk sterilisasi alat, digunakan juga untuk bahan-bahan yang mengandung cairan yang tidak tahab udara panas yang kering, misalnya medium.

Pengemasan steril adalah suatu cara pengemasan bahan dalam suatu wadah yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: produk harus steril, wadah pengamatan harus steril, lingkungan tempat pengisian produk ke dalam wadah harus steril dan wadah yang di gunakan harus rapat untuk mencegah rekontaminasi dengan cara UHT menggunakan uap panas, sedangkan untuk sterilisasi wadah pengemasan selain dapat menggunakan uap panas juga dapat digunakan berbagai cara lain seperti udara panas, perokside, etilen okside, dan radiasi.

Cara sterilisasi wadah yang dilakukan dalam pengemasan steril tergantung dari jenis wadah yang digunakan. Dalam system pengemasan steril, produk dan wadah pengemasan disterilkan secara terpisah, kemudian dilakukan pengisian produk ke dalam wadah dalam lingkungan yang steril sehingga di peroleh produk steril dalam kemasan yang tahan di simpan dalam jangka waktu lama. Dalam system pengemasan steril, sterilisasi yang dilakukan terhadap wadah lebih bervariasi tergantung jenis wadahnya. Wadah yang terbuat dari metal digunakan uap panas atau udara panas. Untuk wadah yang terbuat dari plastic dapat digunakan etilen okside, hydrogen perokside, atau dengan cara radiasi, sedangkan untuk wadah gelas dapat digunakan etilen okside.

VII. KESIMPULAN

Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut.

  • Kehidupan mikroorganisme tergantung pada nutrisi dalam substrat/medium dan faktor lingkungan yang baik.
  • Media  merupakan suatu alat untuk tempat dan tumbuh bagi mikroorganisme.
  • Berdasarkan bentuknya, medium dibagi 3 jenis, yaitu medium cair, medium semisolid, dan medium padat.
  • Sterilisasi adalah suatu usaha untuk membebaskan alat-alat, bahan, dan kemasan dari segala macam bentuk kehidupan terutam mikro organism.
  • Setiap pembuatan media harus disterilkan terlebih dahulu agar hasil yang didapatkan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Sumanti, Debby dkk. 2008. Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan . Universitas Padjajaran, Jatinangor.

Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan 1. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi.       Fateta IPB, Bogor.

Anonim. 2010. Pembuatan Media Biakan. Available at   http://wahyuaskari.wordpress.com/umum/pembuatan-media-biakan/ (diakses tanggal 26 Februari 2011)

http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-2-media-pertumbuhan.html             (diakses tanggal 26 Februari 2011)

http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-3-sterilisasi.html (diakses    tanggal 26 Februari 2011)

http://fuadfathir.multiply.com/journal/item/2/Media_Pertumbuhan_Mikroba (diakses tanggal 26 Februari 2011)

http://blogkita.info/pembuatan-media-n-sterilisasi/ (diakses tanggal 26 Februari 2011)

JAWABAN PERTANYAAN

1. Jelaskan fungsi penambahan Beef Extract pada pembuatan media NA dan fungsi penambahan kentang pada medium PDA! Mengapa berbeda?

Jawab: Penambahan beef extract dan kentang adalah sebagai nutrisi atau makanan dari mikroorganisme yang tumbuh pada media tersebut. Berbeda karena NA adalah untuk menumbuhkan atau mengembangkan semua jenis mikroorganisme, baik itu bakteri, kapang atau pun khamir. Sedangkan PDA adalah khusus untuk menumbuhkan mikroorganisme khamir.

2. Jelaskan Fungsi dari larutan pengencer? Mengapa harus menggunakan KH2PO4? Dapatkah digantikan dengan senyawa kimia lain?

Jawab: Larutan pengencer digunakan untuk membuat media/substrat pertumbuhan bakteri agar konsentrasinya tidak terlalu pekat dan memudahkan mikroorganisme tumbuh.

KH2PO4 adalah larutan penyangga asam dimana fungsinya sebagai pengencer tidak akan mempengaruhi pH media. Pertumbuhan kultur bakteri sangat sensitif terhadap perubahan pH, sehingga dibutuhkan suatu larutan pengencer yang dapat mempertahankan kondisi pH media yang cenderung asam.

KH2PO4 dapat diganti dengan senyawa kimia lain, tetapi memiliki sifat yang sama yaitu sebagai larutan penyangga (buffer) asam yang dapat mempertahankan pH pada daerah asam (pH<7).

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: