LAPORAN 6 (Isolasi dan Enumerasi Bakteri dan Kapang Dari Bahan Pangan)

VI.       PEMBAHASAN

Laporan ini akan membahas hasil praktikum isolasi dan enumerasi bakteri dan kapang dari bahan pangan yang telah dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2011. Enumerasi pada praktikum ini menggunakan metode SPC (Standard Plate Counts).

Kualitas dari produk pangan untuk konsumsi manusia pada dasarnya dipengaruhi oleh mikroorganisme. Mikroorganisme yang dapat tumbuh pada bahan makanan diantaranya adalah bakteri dan kapang. Semua bakteri yang tumbuh pada makanan bersifat heterotropik, yaitu membutuhkan zat organik untuk pertumbuhannya (Fardiaz, 1992).

Bakteri merupakan mikroorganisme yang menempati golongan prokariotik, karena tidak memiliki dinding inti yang jelas atau belum memiliki dinding inti yang sejati, sehingga semua bagian intinya tersebar di dalam sitoplasma secara bebas. Tetap memiliki faktor pembawa sifat yang tersimpan di dalam DNA yang berada di dalam kromosom namun tersebar luas dan bebas di dalam sitoplasma. Meskipun demikian bukannya tidak memiliki inti namun hanya saja tidak memiliki dinding inti yang jelas sehingga tampak tidak berinti sel. Beberapa sifat morfologi bakteri perlu diperhatikan karena pertumbuhannya di dalam makanan dan juga karena bakteri memiliki ketahanan cukup tingggi selama pengolahan dengan panas maupun dengan suhu dingin (Schlegel & Schmidt, 1994).

            Isolasi adalah suatu cara untuk memisahkan satu mikrobia dari mikrobia lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan spesies tunggal dengan sifat-sifat yang diinginkan. Untuk mengetahui jenis mikroorganisme yang hidup dalam bahan pangan dapat dilakukan isolasi mikrobia, dengan cara menggoreskan suspensi campuran sel pada suatu media padat di dalam cawan petri kemudian menginkubasikannya, sehingga setiap sel akan tumbuh membentuk koloni dan memudahkan untuk memisahkannya. (Cappuccino & Sherman, 1983). Isolasi adalah suatu metode untuk memisahkan mikroorganisme dalam medium menjadi sel yang individu yang disiapkan untuk mendapatkan spesies tunggal. (Atlas, 1984). Pada prinsipnya percobaan isolasi dimulai dengan membuat suspensi bahan sebagai sumber mikrobia. Lalu suspensi tersebut dituangkan atau digoreskan (dengan menggunakan jarum ose steril) pada media yang sebelumnya telah disediakan terlebih dahulu. (Hadioetomo,1993).

Dalam pengertian mikrobiologi secara umum, mengisolasi artinya memisahkan suatu spesies mikroorganisme tertentu dari organisme lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, lalu ditumbuhkan menjadi biakan murni. Biakan murni ialah biakan yang sel-selnya berasal dari pembelahan satu sel tunggal. Pengisolasian untuk mendapatkan biakan murni ini diperlukan, karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993).

            Pemindahan kultur adalah langkah pertama dan mendasar dalam proses pengkulturan. Salah satu hal mendasar adalah dipakai media untuk menumbuhkan mikroorganisme tersebut, umumnya media umum yaitu NA dan NB atau PDA. Ada tiga cara dalam melakukan pemindahan kultur, baik di dalam tabung reaksi maupun di dalam petridish, dan digunakan peralatan yang berbeda-beda untuk masing-masing teknik pemindahan kultur tersebut; ada yang menggunakan ose, ada pula yang memakai jarum dan ada pula yang menggunakan pipet. Untuk mendapatkan mikroba yang dapat ditumbuhkan dalam tabung reaksi maupun petridish, dapat dipakai beberapa sumber mikroba, seperti makanan, mikroba yang telah dijadikan suspensi, ataupun koleksi mikroba yang telah diisolasi di dalam tabung reaksi (Hadioetomo, 1993).

            Dengan adanya keberadaan mikroorganisme di sekitar kita, maka mikroorganisme itu juga dapat menguntungkan tetapi dapat juga merugikan, karena apa kita tahu bahwa mikrobia dapat membuat makanan kita menjadi busuk, rusak, tengik, dll. Makanan itu dapat terkontaminasi oleh mikrobia karena dalam makanan mengandung banyak sekali nutrien, yang mana kita tahu bahwa suatu mikrobia dapat hidup dan berkembang bila terdapat nutrien, maka itu tidak heran bila makanan dapat mengalami pembusukan, karena makanan merupakan media yang bagus untuk dapat tumbuh suatu mikroorganisme (Winarno et al., 1980).

Menurut  Fardiaz (1992), Nutrient agar (NA) cocok digunakan untuk identifikasi bakteri, Potato Dextrose Agar (PDA) cocok digunakan untuk identifikasi kapang. Menurut Schegel & Schmidt (1994), PDA (Potato Dextrose Agar) kandungan aslinya adalah ekstrak kentang. Medium tempat kapang ini tumbuh dapat dikatakan telah sesuai, sebab PDA memiliki kandungan ekstrak kentang yang komposisi nutrisinya hampir serupa dengan komposisi roti. Oleh sebab itu kapang pada roti dapat tumbuh pada medium ini. Media adalah tempat tumbuh dari suatu jenis mikroorganisme.

Menurut Fardiaz (1992), untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan cara hitungan cawan digunakan suatu standar yang disebut Standart Plate Counts (SPC). Ketentuannya adalah sebagai berikut :

 

  • Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300.
  • Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar di mana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni.
  • Satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni

Menurut Fardiaz (1992), dalam SPC ditentukan cara pelaporan dan perhitungan koloni, diantaranya sebagai berikut :

  • Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu rendah. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan faktor pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada cawan dari dua tingkat pengenceran dihasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan dua, dilaporkan rata-rata dari kedua nilai tersebut dengan memperhitungkan faktor pengencerannya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.
  • Jika digunakan dua cawan petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu. Oleh karena itu, harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan kedua cawan duplo dengan koloni di antara 30 dan 300.

Sebelum melakukan praktikum, praktikan harus malakukan sterilisasi terhadap alat-alat yang akan digunakan dalam proses isolasi bakteri dan kapang. Alat-alat yang harus di sterilisasi adalah beaker glass satu buah, cawan petri kecil empat buah, tabung reaksi empat buah, pipet ukur empat buah, dan spatula empat buah. Setelah semua alat yang dibutuhkan steril, ambil dan timbang 1 gram sampel. Setelah sampel ditimbang, masukkan sampel kedalam tabung reaksi steril dan tambahkan 9 ml larutan buffer fosfat. Kocok sampai homogen sehingga didapat pengenceran 10-1. Kemudian lakukan pengenceran sampai 10-4. Praktikum kali ini akan dilakukan isolasi bakteri dan isolasi kapang dari sampel bahan pangan, yaitu rendang, ayam kecap, sayur asem, dan sayur nangka.

6.1 Isolasi Bakteri dan Kapang

Setelah pengenceran dilakukan dengan sampel berbeda sampai 10-4, ambil 1 ml suspensi dari pengenceran 10-3 dan 10-4 dan dimasukkan kedalam cawan petri steril serta beri label. Tuang media NA kedalam cawan petri berisi sampel pengenceran 10-3 dan 10-4 sampai seluruh permukaan cawan petri dipenuhi oleh media NA. Setelah itu ambil 1 ml suspensi dari pengenceran 10-3 dan 10-4 dan dimasukkan kedalam cawan petri steril serta beri label. Tuang media PDA kedalam cawan petri berisi sampel pengenceran 10-3 dan 10-4 sampai seluruh permukaan cawan petri dipenuhi oleh media PDA. Semua pekerjaan harus dilakukan secara steril dan aseptis. Kemudian diamkan media hingga membeku. Setelah media membeku, cawan diinkubasi pada suhu 300C selama 2 hari dalam posisi terbalik.

Setelah diinkubasi selama 2 hari, pada media NA amati penampakan koloni yang tumbuh terpisah serta lakukan pewarnaan gram untuk mengetahui bentuk bakteri dengan cara diamati dibawah mikroskop. Kemudian untuk media PDA, amati warna spora, warna miselium, dan kesebaran spora dibawah mikroskop setelah dibuat apusan kapang pada gelas objek. Hasil pengamatannya dapat dilihat pada tabel 1.

Pengamatan bentuk dan ukuran sel koloni bakteri akan tampak jelas jika dilakukan pewarnaan terhadap sel. Teknik pewarnaan gram harus sesuai prosedur karena dapat mengakibatkan kesalahan identifikasi antara gram positif dan gram negatif.  Teknik pewarnaan gram tersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu atau biru. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan lugol, larutan alkohol (bahan pemucat) 95%, dan zat pewarna berupa zat warna safranin.

Sebelum dilakukan pewarnaan gram, yang harus dilakukan adalah membuat apusan bakteri terlebih dahulu. Cara membuat apusan bakteri yaitu, pertama nyalakan bunsen terlebih dahulu. Pada setiap pengerjaan mikrobiologi usahakan untuk bekerja didekat bunsen agar lingkungan tetap steril dan menghindari kontaminan. Setelah menyalakan bunsen, sterilkan gelas objek dengan kapas atau tisu yang sudah diberi alkohol 70%. Perhatikan serabut kapas yang ada di gelas objek, jangan sampai tertinggal satu helaipun serabut kapas karena dapat mengganggu pada saat melakukan pengamatan bentuk bakteri di bawah mikroskop. Kemudian lalukan gelas objek di sekitar api bunsen yang menyala untuk memastikan kesterilan gelas objek. Setelah itu oleskan akuades steril terlebih dahulu pada gelas objek dengan menggunakan ose loop setipis mungkin. Kemudian ambil sampel dengan menggunakan ose loop steril pada permukaan media NA. Setelah itu oleskan sampel setipis mungkin pada gelas objek dengan penyebaran yang merata. Kemudian lakukan fiksasi dengan cara melalukan gelas objek di atas api secara cepat.

Setelah apusan bakteri kering dilanjutkan dengan pewarnaan gram. Cara pewarnaan gram yaitu, pertama teteskan pewarna Kristal violet selama satu menit di atas film pada gelas objek. Kemudian bilas dengan akuades dengan cara membilas gelas objek pada posisi miring. Kemudian keringkan setelah kering tetesi dengan lugol selama satu menit lalu bilas kembali dengan akuades dan keringkan. Setelah kering hilangkan warna pada gelas objek dengan menggunakan alkohol 95% selama 10 – 20 detik lalu bilas dengan akuades dan keringkan kembali. Kemudian warnai dengan larutan safranin selama 20 detik lalu bilas dengan akuades dan keringkan dengan kertas serap atau tisu. Setelah pewarnaan selesai, siapkan cover glass dan bersihkan dengan menggunakan kapas atau tisu yang sudah di beri alkohol 70%. Kemudian letakkan cover glass di atas bakteri yang telah di warnai dan lakukan pengamatan di bawah mikroskop. Setelah semuanya dilakukan sesuai prosedur, pewarnaan gram tersebut akan menghasilkan warna merah dan ungu atau biru. Bakteri yang diwarnai dengan pewarnaan gram ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet sehingga akan terlihat berwarna ungu di bawah mikroskop. Sedangkan bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan pada saat diberi zat pewarna safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya.

Larutan yang digunakan pada pewarnaan gram memiliki 2 fungsi yaitu ada larutan pengucak dan larutan pembanding. Yang termasuk larutan pengucak adalah alkohol yang berfungsi untuk membersihkan sisa warna yang masih tertinggal dalam sampel yang akan diamati. Sedangkan larutan pembanding ini berfungsi sebagai patokan apakah sampel tersebut mempertahankan Kristal violet atau tidak sehingga dengan adanya larutan pembanding inilah kita bisa menentukan sampel mana yang tergolong gram positif dan gram negatif.

Selanjutnya, penambahan safranin berguna sebagai pewarna pada pengamatan bakteri ini. Hal ini terkait dengan hubungan antara bakteri dan zat pewarna basa yang menonjol yang disebabkan asam nukleat dalam jumlah besar dalam protoplasma sel bakteri. Jadi, jika bakteri diberi warna, muatan negatif dalam asam nukleat bakteri akan bereaksi dengan ion positif dalam zat pewarna basa. Sebaliknya, zat pewarna asam akan ditolak oleh muatan negatif bakteri secara menyeluruh. Jadi, ketika bakteri diolesi dengan zat pewarna, asam akan menghasilkan pewarnaan pada daerah latar belakang saja.

Bakteri gram positif dan gram negatif, didasarkan dari reaksi atau sifat bakteri terhadap warna tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pewarnaan gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel. Bakteri yang digolongkan dalam jenis bakteri gram negatif memiliki lapisan membran yang selapis saja, sedangkan bakteri gram positif memiliki membran yang agak tebal sehingga dapat hidup pada keadaan lingkungan yang ekstrim, seperti pH yang rendah, suhu tinggi dan lain sebagainya. Bakteri yang bersifat patogen pada umumnya adalah bakteri yang digolongkan dalam bakteri yang memiliki gram negatif. Karena memiliki membran yang tebal dan kuat sehingga bakteri yang bersifat patogen dapat hihup pada keadaan atau lingkungan yang kurang baik. Perbedaan mendasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alkohol memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidoglikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negatif lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3nm).

 

 

 

Tabel 1. Isolasi Bakteri dan Kapang dari Bahan Pangan

Sampel

Media NA

Media PDA

Visual

Bentuk

Visual

Bentuk

Rendang

-bakteri gram postif

-bentuk basil, terdapat tonjolan pada ujung sel

-koloni berwarna putih

-

-

Ayam Kecap

-bakteri gram negatif

-bentuk spiral

Miselium berwarna putih, tersebar ditepi cawan

Sayur Nangka

-Koloni berwarna putih tersebar tidak merata

-bakteri gram positif

-bentuk coccus

 

Warna spora hitam, warna miselium putih kecoklatan, tersebar tidak merata, tumbuh ditepi cawan.

Sayur Asam

-

-

Warna spora hitam,

Miselium putih tersebar merata

 

            Kelompok 1 menggunakan sampel rendang. Setelah diamati dibawah mikroskop, bakteri rendang pada media NA termasuk bakteri gram positif , berbentuk basil dan berwarna putih. Kemungkinan bakteri pada media NA ini adalah clostridium.

Kelompok 2 menggunakan sampel ayam kecap. Setelah diamati dibawah mikroskop, bakteri rendang pada media NA termasuk bakteri gram negatif dan berbentuk spiral. Pada media PDA terdapat kapang yang memili miselium berwarna putih dan tersebar ditepi cawan petri.

Kelompok 3 menggunakan sampel sayur asam. Setelah diamati dibawah mikroskop, kapang pada media PDA memiliki miselium berwarna putih, warna spora hitam dan  tersebar merata pada cawan. Pada media NA telah terkontaminasi oleh kapang. Kapang pada media NA berasal dari sampel yaitu labu pada sayur asam. Sebelum dimasak, kemungkinan kapang telah ditumbuhi kapang.

Kelompok 4 menggunakan sampel sayur nangka. Setelah diamati dibawah mikroskop, bakteri rendang pada media NA termasuk bakteri gram positif , berbentuk coccus dan koloni berwarna putih yang tersebar tidak merata. Pada media PDA terdapat kapang yang memiliki spora berwarna hitam, warna miselium putih kecoklatan, penyebarannya tidak merata yang tumbuh ditepi cawan.
6.2 Perhitungan Mikroorganisme dengan Metode SPC

Setelah pengenceran dilakukan dengan sampel berbeda sampai 10-4, ambil 1 ml suspensi dari pengenceran 10-3 dan 10-4 dan dimasukkan kedalam empat buah cawan petri steril serta beri label. Tuang media NA kedalam dua buah cawan petri berbeda berisi sampel pengenceran 10-3 dan 10-4 sampai seluruh permukaan cawan petri dipenuhi oleh media NA, dan tuang media PDA kedalam dua buah cawan petri lain yang berisi sampel pengenceran 10-3 dan 10-4 sampai seluruh permukaan cawan petri dipenuhi oleh media PDA. Semua pekerjaan harus dilakukan secara steril dan aseptis. Kemudian diamkan media hingga membeku. Setelah media membeku, inkubasi cawan pada suhu 300C selama 2 hari.

Setelah diinkubasi selama 2 hari, jumlah koloni bakteri pada empat buah cawan petri tersebut dihitung dengan metode SPC.  Perhitungannya dapat dilihat pada tabel 2. Perhitungan nilai SPC pada tabel 2 telah dihitung sesuai dengan cara pelaporan dan perhitungan koloni yang caranya sesuai dengan pedoman pada buku Fardiaz (1992). Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua (Fardiaz, 1992).

Tabel 2. Perhitungan Mikroorganisme dengan Metode SPC

Kelompok

Sampel

Media

Jumlah Koloni

SPC

10-3

10-4

1

Rendang

NA

3

3

< 3,0 x 104

( 3,0 x 103 )

PDA

-

-

-

2

Ayam Kecap

NA

3

8

< 3,0 x 104

( 3,0 x 103 )

PDA

TBUD

3

-

3

Sayur Asem

NA

-

5

< 3,0 x 105

( 5,0 x 104 )

PDA

-

-

-

4

Sayur Nangka

NA

36

5

3,6 x 104

PDA

89

23

8,9 x 104

Kelompok 1 menggunakan sampel rendang. Setelah dihitung dengan Colony Counter jumlah koloni bakteri pada media NA, untuk pengenceran 10-3 adalah 3 koloni dan untuk pengenceran 10-4  adalah 3 koloni. Jumlah koloni tersebut tidak ada yang memenuhi range antara 30-300. semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung (Fardiaz, 1992), yaitu 3,0 x 103.  Setelah diinkubasi, pada media PDA tidak terdapat bakteri karena tempat pertumbuhan yang sesuai untuk bakteri adalah pada media NA. Sehingga tidak dapat diketahui juga nilai SPC-nya.

Kelompok 2 menggunakan sampel ayam kecap. Setelah dihitung dengan Colony Counter jumlah koloni bakteri pada media NA, untuk pengenceran 10-3 adalah 3 koloni dan untuk pengenceran 10-4  adalah 8 koloni. Jumlah koloni tersebut tidak ada yang memenuhi range antara 30-300. semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung (Fardiaz, 1992), yaitu 3,0 x 103. Setelah dihitung dengan Colony Counter jumlah koloni bakteri pada media PDA, untuk pengenceran 10-3 adalah TBUD (tidak bisa untuk dihitung) dan untuk pengenceran 10-4  adalah 3 koloni. Jadi nilai SPC tidak dapat ditentukan  karena hasil pengenceran tidak sesuai dengan syarat pelaporan dan perhitungan koloni menurut Fardiaz (1992). Nilai SPC-nya dapat dihitung jika jumlah bakteri pada pengenceran sebelumnya lagi diketahui.

Kelompok 3 menggunakan sampel sayur asem. Setelah dihitung dengan Colony Counter jumlah koloni bakteri pada media NA, untuk pengenceran 10-4  adalah 5 koloni. Untuk pengenceran 10-3 terkontaminasi oleh kapang. Jumlah koloni tersebut tidak ada yang memenuhi range antara 30-300. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung (Fardiaz, 1992) yaitu 5,0 x 104. Setelah diinkubasi, media NA dan PDA telah terkontaminasi kapang yang penyebabnya dapat berasal dari sampel itu sendiri. Sampel yang digunakan dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Kelompok 3 menggunakan labu pada sayur asem yang digunakan sebagai sampel. Sayur-sayuranan lebih identik dengan kapang dan biasanya labu ditumbuhi oleh banyak kapang. Sehingga pada saat pengenceran, pencampuran sampel hanya melibatkan labu dan kuah sayur asem saja, sehingga persentase labu yang digunakan lebih banyak dan kapang yang terdapat pada labu ikut terlarut. Hal ini membuat kemungkinan terkontaminasinya media NA dan PDA oleh kapang. Selain itu pekerjaan yang tidak dilakukan secara aseptik juga dapat menyebabkan terdapatnya kontaminan seperti kapang.

Kelompok 4 menggunakan sampel sayur nangka. Setelah dihitung dengan Colony Counter jumlah koloni bakteri pada media NA, untuk pengenceran 10-3 adalah 36 koloni dan untuk pengenceran 10-4  adalah 5 koloni. Jumlah koloni pada pengenceran 10-3 memenuhi range antara 30-300. Hasilnya dilaporkan dari nilai yang memenuhi range, yaitu 3,6 x 104. Setelah dihitung dengan Colony Counter jumlah koloni bakteri pada media PDA, untuk pengenceran 10-3 adalah 89 koloni dan untuk pengenceran 10-4  adalah 23 koloni. Jumlah koloni pada pengenceran 10-3 memenuhi range antara 30-300. Hasilnya dilaporkan dari nilai yang memenuhi range, yaitu 8,9 x 104.

 

 

VII.     KESIMPULAN

 Kesimpulan dari praktikum isolasi kapang dan bakteri serta perhitungan mikroorganisme dengan metode SPC adalah sebagai berikut:

  • Isolasi berarti memisahkan bakteri dari kapang yaitu memisahkan satu jenis bakteri atau kapang dari satu kelompok atau campuran menjadi satu biakan murni.
  • Biakan murni adalah biakan yang hanya terdiri dari satu jenis mikroorganisme.
  • Teknik pewarnaan gram harus sesuai prosedur karena jika tidak sesuai prosedur dapat mengakibatkan kesalahan identifikasi antara gram positif dan gram negatif.
  • Bakteri gram positif adalah bakteri yang dapat mempertahankan zat warna kristal violet pada saat proses pewarnaan gram sehingga akan berwarna biru atau ungu ketika diamati di bawah mikroskop.
  • Bakteri gram negatif adalah bakteri yang tidak dapat mempertahankan zat warna kristal violet pada saat proses pewarnaan gram sehingga akan berwarna merah jika diamati di bawah mikroskop.
  • Perbedaan mendasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya.
  • Standart Plate Counts (SPC) di gunakan untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan cara hitungan cawan.
  • Sampel yang digunakan pada pengenceran dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Atlas, R.M. 1984. Microbiology: Fundamentals and Applications. MacMillan Publishing Company. New York.

 

Cappucino, J. G. & N. Sherman. 1983. Microbiology: A Laboratory Manual. Addison-Wesley Publishing Company. Massachusetts.

 

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Hadioetomo, R. S. 1993. Mikobiologi Dasar Dalam Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Schlegel H. G. & K. Schmidt. 1994. Mikrobiologi Umum. Gajahmada University Press. Yogyakarta.

 

Winarno, F.G; S. Fardiaz & D. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pertanian. PT Gramedia. Jakarta.

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: