LAPORAN 9 (Pengujian Bakteri Halofilik)

VI.       PEMBAHASAN

Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian bakteri halofilik yang telah dilaksanakan pada tanggal 25 April 2011.

Garam biasanya digunakan untuk pengawetan bahan pangan. Dengan penambahan garam akan menaikan konsentrasi dan menurunkan kadar air. Mikroorganisme pada umumnya tidak dapat tumbuh pada aw rendah karena tidak ada cukup air untuk mendukung pertumbuhannya. Tetapi ada mikroorganisme toleran terhadap kadar garam tinggi. Bahkan mikroorganisme ini membutuhkan konsentrasi minimal tertentu untuk pertumbuhannya bakteri tersebut adalah bakteri halofilik (Fardiaz, 1992).

Adapun pengelompokan bakteri halofilik dibagi menjadi tiga golongan yaitu bakteri halofilik sedang, konsentrasi garam yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimum adalah 5-20%, 20-30% untuk bakteri halofilik ekstrem, dan bakteri halofilik yang tumbuh pada konsentrasi garam 2-5%, bakteri ini tergolong bakteri halofilik ringan. Bakteri yang bersifat halofilik diantaranya adalah Halobacterium, Sarcina, Micrococcus, Pseudomonas, Vibrio, Pediococcus, dan Alcaligenes (Fardiaz, 1992).

Praktikum kali ini akan dilakukan pengujian bakteri halofilik dengan menggunakan sampel ikan peda. Ikan peda terdiri dari dua jenis ikan, yaitu ikan peda merah (ikan peda betina) memiliki lemak yang tinggi, dan ikan peda putih (ikan peda jantan) memiliki lemak yang rendah. Pada praktikum kali ini akan digunakan sampel ikan peda merah, yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat bakteri halofilik pada sampel tersebut dan bakteri jenis apa sajakah yang hidup pada konsentrsi  garam tertentu. Sebanyak 1 gram sampel ditimbang dan diencerkan menggunakan 9 ml larutan buffer fosfat sampai pengenceran 10-3. Kemudian sebanyak 1 ml pengenceran 10-2 dan 10-3 dinokulasikan pada cawan dengan menggunan metode tuang. Media yang digunakan adalah media NA, NA + 5 % NaCl, NA + 10 % NaCl, dan NA + 15% NaCl. Nutrient Agar (NA) adalah jenis media umum yang biasa digunakan untuk membiakan bakteri. Kemudian diinkubasi selama 2 hari pada suhu 30oC. Amati jumlah, bentuk dan warna koloninya. Kemudian hitung nilai SPC dan dilanjutkan dengan pewarnaan gram. Setelah dilakukan pewarnaan gram, amati dibawah mikroskop.

Menurut Fardiaz (1992), untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan cara hitungan cawan digunakan suatu standar yang disebut Standart Plate Counts (SPC). Ketentuannya adalah sebagai berikut :

  • Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300.
  • Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar di mana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni.
  • Satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni

Menurut Fardiaz (1992), dalam SPC ditentukan cara pelaporan dan perhitungan koloni, diantaranya sebagai berikut :

  • Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu rendah. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan faktor pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada cawan dari dua tingkat pengenceran dihasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan dua, dilaporkan rata-rata dari kedua nilai tersebut dengan memperhitungkan faktor pengencerannya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.

Jika digunakan dua cawan petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu. Oleh karena itu, harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan kedua cawan duplo dengan koloni di antara 30 dan 300.

Pengamatan bentuk dan ukuran sel koloni bakteri akan tampak jelas jika dilakukan pewarnaan terhadap sel. Teknik pewarnaan gram harus sesuai prosedur karena dapat mengakibatkan kesalahan identifikasi antara gram positif dan gram negatif.  Teknik pewarnaan gram tersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu atau biru. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan lugol, larutan alkohol (bahan pemucat) 95%, dan zat pewarna berupa zat warna safranin.

Sebelum dilakukan pewarnaan gram, yang harus dilakukan adalah membuat apusan bakteri terlebih dahulu. Cara membuat apusan bakteri yaitu, pertama nyalakan bunsen terlebih dahulu. Pada setiap pengerjaan mikrobiologi usahakan untuk bekerja didekat bunsen agar lingkungan tetap steril dan menghindari kontaminan. Setelah menyalakan bunsen, sterilkan gelas objek dengan kapas atau tisu yang sudah diberi alkohol 70%. Perhatikan serabut kapas yang ada di gelas objek, jangan sampai tertinggal satu helaipun serabut kapas karena dapat mengganggu pada saat melakukan pengamatan bentuk bakteri di bawah mikroskop. Kemudian lalukan gelas objek di sekitar api bunsen yang menyala untuk memastikan kesterilan gelas objek. Setelah itu oleskan akuades steril terlebih dahulu pada gelas objek dengan menggunakan ose loop setipis mungkin. Kemudian ambil sampel dengan menggunakan ose loop steril pada permukaan media NA. Setelah itu oleskan sampel setipis mungkin pada gelas objek dengan penyebaran yang merata. Kemudian lakukan fiksasi dengan cara melalukan gelas objek di atas api secara cepat.

Setelah apusan bakteri kering dilanjutkan dengan pewarnaan gram. Cara pewarnaan gram yaitu, pertama teteskan pewarna Kristal violet selama satu menit di atas film pada gelas objek. Kemudian bilas dengan akuades dengan cara membilas gelas objek pada posisi miring. Kemudian keringkan setelah kering tetesi dengan lugol selama satu menit lalu bilas kembali dengan akuades dan keringkan. Setelah kering hilangkan warna pada gelas objek dengan menggunakan alkohol 95% selama 10 – 20 detik lalu bilas dengan akuades dan keringkan kembali. Kemudian warnai dengan larutan safranin selama 20 detik lalu bilas dengan akuades dan keringkan dengan kertas serap atau tisu. Setelah pewarnaan selesai, siapkan cover glass dan bersihkan dengan menggunakan kapas atau tisu yang sudah di beri alkohol 70%. Kemudian letakkan cover glass di atas bakteri yang telah di warnai dan lakukan pengamatan di bawah mikroskop. Setelah semuanya dilakukan sesuai prosedur, pewarnaan gram tersebut akan menghasilkan warna merah dan ungu atau biru. Bakteri yang diwarnai dengan pewarnaan gram ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet sehingga akan terlihat berwarna ungu di bawah mikroskop. Sedangkan bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan pada saat diberi zat pewarna safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya.

Larutan yang digunakan pada pewarnaan gram memiliki 2 fungsi yaitu ada larutan pengucak dan larutan pembanding. Yang termasuk larutan pengucak adalah alkohol yang berfungsi untuk membersihkan sisa warna yang masih tertinggal dalam sampel yang akan diamati. Sedangkan larutan pembanding ini berfungsi sebagai patokan apakah sampel tersebut mempertahankan Kristal violet atau tidak sehingga dengan adanya larutan pembanding inilah kita bisa menentukan sampel mana yang tergolong gram positif dan gram negatif.

Selanjutnya, penambahan safranin berguna sebagai pewarna pada pengamatan bakteri ini. Hal ini terkait dengan hubungan antara bakteri dan zat pewarna basa yang menonjol yang disebabkan asam nukleat dalam jumlah besar dalam protoplasma sel bakteri. Jadi, jika bakteri diberi warna, muatan negatif dalam asam nukleat bakteri akan bereaksi dengan ion positif dalam zat pewarna basa. Sebaliknya, zat pewarna asam akan ditolak oleh muatan negatif bakteri secara menyeluruh. Jadi, ketika bakteri diolesi dengan zat pewarna, asam akan menghasilkan pewarnaan pada daerah latar belakang saja.

Bakteri gram positif dan gram negatif, didasarkan dari reaksi atau sifat bakteri terhadap warna tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pewarnaan gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel. Bakteri yang digolongkan dalam jenis bakteri gram negatif memiliki lapisan membran yang selapis saja, sedangkan bakteri gram positif memiliki membran yang agak tebal sehingga dapat hidup pada keadaan lingkungan yang ekstrim, seperti pH yang rendah, suhu tinggi dan lain sebagainya. Bakteri yang bersifat patogen pada umumnya adalah bakteri yang digolongkan dalam bakteri yang memiliki gram negatif. Karena memiliki membran yang tebal dan kuat sehingga bakteri yang bersifat patogen dapat hihup pada keadaan atau lingkungan yang kurang baik. Perbedaan mendasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alkohol memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidoglikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negatif lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3nm).

Hasil pengamatan pengujian bakteri halofilik dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1. Pengamatan Jumlah Koloni Bakteri pada Ikan Peda

Kel

Media

Jumlah koloni

Nilai SPC

Keterangan

10-2

10-3

1

NA

5

13

< 3 x 103

(5 x 102)

Tumbuh khamir

2

NA + 5% NaCl

28

0

< 3 x 103

(2.8 x 103)

-

3

NA + 10% NaCl

8

3

< 3 x 103

(8 x 102)

-

4

NA + 15% NaCl

28

18

< 3 x 103

(2.8 x 103)

-

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)

Tabel 2. Gambar dari Pengamatan pada Ikan Peda

Kel

Media

 

Jumlah Koloni

10-2

10-3

1

NA

Gambar

-

Keterangan

Basil, gram -

-

Dugaan Bakteri

Bakteri umum (semua bakteri dapat tumbuh di media) sehingga tidak dapat diidentifikasi secara pasti

-

2

NA

+

5% NaCl

Gambar

-

Keterangan

Kokus, gram +

-

Dugaan Bakteri

Pediococcus dan Micrococcus

-

3

NA

+

10% NaCl

Gambar

Keterangan

Kokus

Ketika pewarnaan gram karena bakteri terlalu tipis tidak jelas terlihat warnanya

Kokus

Ketika perwarnaan gram karena bakteri terlalu tipis tidak jelas terlihat warnanya

Dugaan Bakteri

Micrococcus dan Pseudomonas

Micrococcus dan Pseudomonas

4

NA

+

15% NaCl

Gambar

Keterangan

Kokus, gram -

Basil, gram -

Dugaan Bakteri

Pseudomonas

Vibrio, Alkaligenes dan Halobacterium

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)

Kultur pada media NA saja, jumlah koloni pada pengenceran 10-2 dan 10-3 adalah 5 koloni dan 13 koloni. Hal ini menunjukan bakteri halofilik yang sebelumnya hidup pada ikan peda, tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik sehingga koloni yang mampu bertahan dan tumbuh hanya sedikit. Kemungkinan bakteri yang tumbuh pada cawan adalah bakteri halofilik toleran atau halofilik ringan atau bahkan bukan bakteri halofilik.

Kultur pada media NA + 5 % NaCl, hanya pada pengenceran 10-2 saja yang ditumbuhi koloni. jumlah koloni pada pengenceran 10-2 adalah 28 koloni. Berdasarkan pewarnaan gram yang kemudian dilanjutkan dengan pengamatan dibawah mikroskop, bakteri berbentuk kokus dan gram positif. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, kemungkinan bakterinya adalah Pediococcus dan Micrococcus.

Jumlah koloni pada media NA + 10% NaCl adalah 8 koloni pada pengenceran 10-2 dan 3 koloni pada pengenceran10-3.  Hal ini menunjukan bakteri halofilik yang sebelumnya hidup pada ikan peda, tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik sehingga koloni yang mampu bertahan dan tumbuh hanya sedikit. Koloni yang tumbuh pada cawan terlalu tipis sehingga pada saat pewarnaan gram tidak dapat terlihat jelas warnanya. Bakteri pada media NA + 10% NaCl berbentuk kokus, dan kemungkinan bakterinya adalah Micrococcus dan Pseudomonas.

Jumlah koloni pada media NA + 15 % NaCl, jumlah koloni pada pengenceran 10-2 dan 10-3 adalah 28 koloni dan 18 koloni. Bedasarkan pengamatan dengan pewarnaan dan mikroskop, bakteri termasuk gram negatif dan berbentuk basil. Dari ciri-ciri tersebut,  yang paling cocok dengan data hasil pengamatan adalah bakteri dengan family Halobacterium, dengan spesies Halobacterium salinarum. Bakteri jenis ini tumbuh pada konsentrasi 3.5% sampai jenuh. Bakteri ini bisa dikatakan sebagai bakteri halofilik sedang.

Jumlah koloni yang tumbuh pada media juga tergantung darimana bagian yang di ambil sebagai sampel pada ikan peda.

VII.     KESIMPULAN

 

Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah:

  • Bakteri halofilik yang terdapat pada ikan peda lebih banyak yang bersifat halofilik ekstrim.
  • Halobacterium salinarum termasuk dalam bakteri halofilik sedang
  • Media yang kadar garamnya rendah membuat bakteri halofilik yang dipindahkan pada media sulit beradaptasi.
  • Jumlah koloni yang tumbuh pada media juga tergantung darimana bagian yang di ambil sebagai sampel pada ikan peda.

DAFTAR PUSTAKA                      

 Fardiaz, S., 1992. Mikrobiologi pangan I. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: