LAPORAN 1 (Pengujian Sanitasi Udara dan Ruangan)

VI.       PEMBAHASAN

Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian sanitasi udara dan ruangan yang telah dilaksanakan pada tanggal 12 September 2012. Tujuan Praktikum ini adalah untuk mengetahui jumlah mikroba yang terdapat dalam udara dan suatu ruangan.

Udara di dalam suatu ruangan dapat merupakan sumber kontaminasi udara. Udara tidak mengandung mikroflora secara alami, akan tetapi kontaminasi dari lingkungan sekitar mengakibatkan udara mengandung berbagai mikroorganisme, misalnya debu, air, proses aerasi, dari penderita yang mengalami infeksi saluran pencernaan dan dari ruangan yang digunakan untuk fermentasi. Mikroorganisme yang terdapat dalam udara biasanya melekat pada bahan padat, misalnya debu atau terdapat dalam droplet air (Volk dan Whleer, 1984).

Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Misalnya bakteri termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Bakteri dapat pula mengubah pH dari media tempat ia hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia (Lay, 1992).

Udara mengandung campuran gas-gas yang sebagian besar terdiri dari Nitrogen (N2) 23%, Oksigen (O2) 21 % dan gas lainnya 1%. Selain gas juga terdapat debu, kapang, bakteri, khamir, virus dan lain-lain. Walaupun udara bukan medium yang baik untuk mikroba tetapi mikroba selalu terdapat di udara. Adanya mikroba disebabkan karena pengotoran udara oleh manusia, hewan, zat-zat organik dan debu. Jenis-jenis mikroba yang terdapat di udara terutama jenis Bacillus subtilis dapat membentuk spora yang tahan dalam keadaan kering (Pelczar, 1988).

Jumlah mikroba yang terdapat di udara tergantung pada aktivitas lingkungan misalnya udara di atas padang pasir atau gunung kering, dimana aktivitas kehidupan relatif sedikit maka jumlah mikroba juga sedikit. Contoh lain udara di sekitar rumah, pemotongan hewan, kandang hewan ternak, tempat pembuangan sampah maka jumlah mikroba relatif banyak (Pelczar, 1988).

Banyak penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen yang ditularkan melalui udara, misalnya bakteri penyebab tubercolosis (TBC) dan virus flu yang dapat ditularkan melalui udara pernapasan. Beberapa cara yang digunkan untuk membersihkan udara yaitu (Volk dan Wheeler, 1984) :

1. Menyiram tanah dengan air sehingga mengurangi debu yang berterbangan.
2. Menyemprot udara dengan desinfektan sehingga udara berkurang mikrobanya
3. Dengan radiasi sinar ultraviolet.

Udara tidak mempunyai flora alami, karena organisme tidak dapat hidup dan tumbuh terapung begitu saja di udara. Flora mikroorganisme udara terdiri atas organisme yang terdapat sementara mengapung di udara atau terbawa serta pada partikel debu. Setiap kegiatan manusia agaknya akan menimbulkan bakteri di udara. Jadi, walaupun udara tidak mendukung kehidupan mikroorganisme, kehadirannya hampir selalu dapat ditunjukkan dalam cuplikan udara (Volk dan Wheeler, 1984).

Mikroorganisme disemburkan ke udara dari saluran pernapasan sehingga organisme-organisme tersebut mendapat perhatian utama sebagai jasad penyebab penyakit melalui udara. Beberapa diantara infeksi bakteri biasa yang disebarkan oleh udara adalah infeksi streptococus tonsil dan tenggorokan, difteria, batuk rejam dan meningitis epidermik. Tuberculosis mempunyai arti penting dari segi transpor udara, karena mikroorganisme dapat hidup lama di luar tubuh. Organisme initahan terhadap kekeringan dan mungkin tetap bertahan berbulan-bulan dalam ludah kering dan pertikel debu (Volk dan Wheeler, 1984).

Flora mikroba di lingkungan mana saja pada umumnya terdapat dalam populasi campuran. Boleh dikatakan amat jarang mikroba dijumpai sebagai satu spesies tunggal di alam. Untuk mencirikan dan mengidentifikasi suatu spesies mikroorganisme tertentu, pertama-tama spesies tersebut harus dapat dipisahkan dari organisme lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, lalu ditumbuhkan dalam biakan murni (Bonang, 1982).

Flora mikroba yang terdapat di lingkungan alamiah merupakan penyebab banyak sekali proses biokimia, yang pada akhirnya memungkinkan kesinambungan kehidupan sebagaimana yang kita kenal dimuka bumi ini. Mikroorganisme misalnya merupakan penyebab terjadinya mineralisasi di dalam tanah dan perairan, yaitu proses pembebasan unsur-unsur dari senyawa-senyawa molekuler organik yang kompleks sehingga menjadi tersedia bagi kehidupan tanaman yang baru, yang pada gilirannya menunjang kehidupan hewan baru (Bonang, 1982).

Setiap spesies mikroorganisme akan tumbuh dengan baik dalam lingkungannya hanya selama kondisinya menguntungkan bagi pertumbuhannya dan mempertahankan dirinya. Begitu terjadi perubahan fisik atau kimia, seperti misalnya habisnya nutrien atau terjdi perubahan radikal dalam hal suhu atau pH yang membuat kondisi bagi pertumbuhan spesies lain lebih menguntungkan, maka organisme yang telah beradaptasi dengan baik di dalam keadaan lingkungan terdahulu terpaksa menyerahkan tempatnya kepada organisme yang dapat beradaptasi dengan baik di dalam kondisi yang baru itu (Pelczar, 1988).
Kontaminasi oleh mikroorganisme dapat terjadi setiap saat dan menyentuh permukaan setiap tangan atau alat. Dengan demikian sanitasi lingkungan sangat perlu diperhatikan terutama yang bekerja dalam bidang mikrobiologi atau pengolahan produk makanan atau industri (Volk dan Wheeler, 1984).

Sanitasi merupakan persyaratan yang mutlak bagi industri pangan sebab sanitasi berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap mutu pangan dan daya awet produk serta nama baik atau citra perusahaan (Betty dan Een, 2011).

PRaktikum kali ini dilakukan dengan menggunakan media tumbuh mikroorganisme yaitu Plate Count Agar (PCA) yang merupakan media umum mikroorganisme, Nutrient Agar (NA) untuk media hidup bakteri dan Potato Dextrose Agar (PDA) media khusus untuk khamir maupun kapang.

 

6.1 Uji Sanitasi Udara

Pengujian mikroorganisme dalam udara dilakukan di ruangan yang telah ditentukan. Tempat yang dipilih untuk menguji sanitasi udara tersebut antara lain laboratorium pendidikan, koridor lantai 2, tangga, perpustakaan, dan yang terakhir adalah laboratorium uji. Pengujian dilakukan dengan cara meletakkan media agar NA dan PDA yang telah membeku dalam cawan petri pada tempat-tempat yang telah disebutkan sebelumnya. Cawan petri tersebut diletakkan dalam keadaan terbuka selama 30 menit, tujuannya adalah agar mikroorganisme di udara dapat menempel dan menjadikan media agar tersebut menjadi tempat tumbuhnya, sehingga jumlah mikroorganisme baik bakteri, kapang, dan khamir dapat diketahui. Selanjutnya dilakukan inkubasi untuk menumbuhkan mikroorganisme sesuai dengan kondisi yang cocok, yaitu pada suhu 30oC .

Hasil yang diperoleh setelah dilakukan inkubasi selama dua hari dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan. Hasil tersebut dinyatakan dalam bentuk jumlah koloni dan densitas atau kepadatan mikroba yang terdapat di udara. Jumlah koloni dapat dihitung dengan bantuan alat colony counter ataupun secara manual, sedangkan untuk menghitung densitas dapat digunakan rumus :

 

Dari tabel tersebut dilihat bahwa urutan jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada medium NA dari jumlah terbesar hingga terkecil adalah pada NA yang disimpan di  koridor lantai 2 terdapat 46 koloni, di laboratorium pendidikan terdapat 38 koloni, di laboratorium uji terdapat 24 koloni, di perpustakaan terdapat 14 koloni, dan di tangga terdapat 12 koloni. Jumlah koloni kapang dan khamir , dari urutan terbesar hingga terkecil yang hidup di medium PDA adalah yang disimpan di tangga terdapat 32 koloni, laboratorium pendidikan terdapat 18 koloni, di koridor lantai 2 terdapat 17 koloni, sedangkan jumlah koloni yang tumbuh pada NA yang diletakkan di perpustakaan dan laboratorium uji menunjukkan jumlah yang sama yaitu terdapat 6 koloni. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa mikroorganisme yang mendominasi dalam kontaminasi udara adalah bakteri, hal ini dapat terlihat dari jumlahnya yang lebih banyak dibandingkan dengan yang tumbuh di medium PDA.

Adanya mikroorganisme yang tumbuh di masing-masing cawan menandakan bahwa udara di tempat tersebut tidak selamanya bebas dari kontaminasi mikrooganisme dan dengan adanya pengujian ini membuktikan bahwa adanya aktifitas di setiap tempat menunjukan adanya mikrooganisme yang ada di tempat tersebut.

Densitas mikroorganisme udara menyatakan jumlah mikroba yang jatuh pada permukaan agar per cm2 selama satu jam. Satuan densitas dinyatakan dalam g/cm2. (Anonima,2009)

Perhitungan densitas sangat dipengaruhi oleh luas cawan dan lamanya kontak cawan dengan udara tempat uji dilakukan. Luas cawan petri yang berbentuk lingkaran dapat dihitung dengan mengukur diameter tiap cawan yang digunakan.

Hasil perhitungan densitas dari tiap medium, menghasilkan data bahwa urutan densitas (g/cm2) bakteri terbesar hingga terkecil adalah dari NA yang disimpan di koridor lantai 2, laboratorium pendidikan, laboratorium uji, perpustakaan, dan tangga, dimana masing-masing memiliki densitas sebesar 1952,83 g/cm2, 1413 g/cm2, 1058,43 g/cm2, 571,69 g/cm2 dan 490,0296 g/cm2.

Jumlah koloni terbesar pada perhitungan bakteri yang tumbuh di media NA tidak menunjukkan hasil yang sama dengan perhitungan densitas. Densitas bakteri terbesar ke dua terdapat pada medium NA yang disimpan di laboratorium pendidikan, hal ini dapat terjadi disebabkan posisi laboratoium pendidikan yang berada di lantai bawah, bagian depan, dan memiliki cukup ventilasi untuk pertukaran udara, dan terkena sinar matahari secara langsung. Lantai bawah, cenderung lebih sering dilewati oleh orang sehingga penyebaran bakteri bisa lebih banyak.

Tingkat pencemaran udara di dalam ruangan oleh mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti laju ventilasi, padat orang dan sifat serta saraf kegiatan orang-orang yang menempati ruangan tersebut. Mikroorganisme terhembuskan dalam bentuk percikan dari hidung dan mulut selama bersin, batuk dan bahkan bercakap-cakap titik-titik air terhembuskan dari saluran pernapasan mempunyai ukuran yang beragam dari mikrometer sampai milimeter. Titik-titik air yang ukurannya jatuh dalam kisaran mikrometer yang rendah akan tinggal dalam udara sampai beberapa lama, tetapi yang berukuran besar segera jatuh ke lantai atau permukaan benda lain. Debu dari permukaan ini sebentar-sebentar akan berada dalam udara selama berlangsungnya kegiatan dalam ruangan tersebut (Pelczar, 1994).

Terdapat berbagai prediksi jenis mikroorganisme yang memungkinkan menyebar diudara dan dapat mengkontaminasi bahan pangan, dari mulai yang bersifat pendegradasi hingga patogen. Bakteri yang memungkinkan menjadi agen kontaminan antara lain ­­­­Pseudomonas, Xanthomonas, Gluconobacter, Halobacterium, Halococcus, Alcaligenes, Acetobacter, dan Brucella. Kapang yang kemungkinan menjadi kontaminan adalah jenis Aspergillus Sp.

Beberapa cara yang digunakan untuk membersihkan udara yaitu:

  1. Menyiram tanah dengan air sehingga mengurangi debu yang berterbangan.
  2. Menyemprot udara dengan desinfektan sehingga udara berkurang mikrobanya
  3. Dengan menggunakan radiasi sinar ultraviolet.

 

6.2 Uji Sanitasi Ruangan

Pada pengujian ini satu cawan yang sudah steril dengan ukuran 5-6 cm diisi dengan media PCA yang kemudian dibekukan. Selanjutnya tutup cawan dibuka dan dengan posisi terbalik ditekan permukaan agarnya pada empat tempat dan didekat bunsen, yaitu meja yang belum dibersihkan, meja yang dibersihkan dengan air biasa, meja yang dibersihkan dengan larutan disinfektan, dan lantai yang tidak dibersihkan dan lantai yang dibersikan dengan desinfektan. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 30oC selama 2 hari. Hitung unit koloninya dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

 

            Hasil pengamatan menunjukkan bahwa urutan unit koloni dari terbesar hingga terkecil adalah pada PCA yang diberi perlakuan meja yang tidak dibersihkan (20,38), lantai yang dibersihkan dengan desinfektan (13,605), meja yang dibersihkan dengan desinfektan (9,422) > lantai yang tidak dibersihkan (4,897), meja yang dibersihkan dengan air tidak ditemukan pertumbuhan koloni didalamnya.

Dengan ditandainya pertumbuhan mikroorganisme pada setiap ruangan yang dilakukan pengujian, menandakan bahwa tidak semua ruangan yang ada kebersihannya terjamin. Lantai yang dibersihkan dengan desinfektan misalnya, masih terdapat koloni bakteri yang tumbuh, padahal desinfektan dapat mereduksi jumlah mikroorganisme, berbanding terbalik dengan meja yang dibersihkan dengan air justru tidak ditemukan sama sekali unit koloni bakteri.

Pada ruangan, hal yang penting untuk diperhatikan adalah lantai, dinding, dan langit-langit. Lantai yang licin dan dikonstruksi dengan tepat, mudah dibersihkan. Sedangkan lantai yang kasar dan dapat menyerap, sulit untuk dibersihkan. Lantai yang terkena limbah cairan misalnya dari alat pemasakan dan tidak ditiriskan dengan baik dapat menjadi tempat penyediaan makanan bagi bakteri dan serangga. Dinding dan langit-lngit yang kasar dapat membawa bakteri seperti Staphylococcus aureus. Lantai, dinding, dan langit-langit yang konsturksinya buruk, jauh lebih sulit untik dijaga sanitasinya. Akan tetapi, struktur yang licin pun dapat menjadi sumber kontaminan yang tidak diinginkan bila tidak dibersihkan dan dipelihara secara teratur dan efektif.

 

VII.     KESIMPULAN

 

  • jumlah terbesar hingga terkecil adalah pada NA yang disimpan di  koridor lantai 2 terdapat 46 koloni, di laboratorium pendidikan terdapat 38 koloni, di laboratorium uji terdapat 24 koloni, di perpustakaan terdapat 14 koloni, dan di tangga terdapat 12 koloni. Jumlah koloni kapang dan khamir , dari urutan terbesar hingga terkecil yang hidup di medium PDA adalah yang disimpan di tangga terdapat 32 koloni, laboratorium pendidikan terdapat 18 koloni, di koridor lantai 2 terdapat 17 koloni, sedangkan jumlah koloni yang tumbuh pada NA yang diletakkan di perpustakaan dan laboratorium uji menunjukkan jumlah yang sama yaitu terdapat 6 koloni.
  • Urutan densitas bakteri terbesar hingga terkecil adalah dari NA yang disimpan di koridor lantai 2, laboratorium pendidikan, laboratorium uji, perpustakaan, dan tangga, dimana masing-masing memiliki densitas sebesar 1952,83 g/cm2, 1413 g/cm2, 1058,43 g/cm2, 571,69 g/cm2 dan 490,0296 g/cm2.
    • Urutan densitas (g/cm2) kapang dan khamir dari tertinggi hingga terendah secara berurutan adalah tangga (1306), laboratorium pendidikan (706),  koridor lantai 2 (694), perpustakaan (245), laboratorium uji (245),
    • Urutan unit koloni dari terbesar hingga terkecil adalah pada PCA yang diberi perlakuan meja yang tidak dibersihkan (20,38), lantai yang dibersihkan dengan desinfektan (13,605), meja yang dibersihkan dengan desinfektan (9,422) > lantai yang tidak dibersihkan (4,897), meja yang dibersihkan dengan air tidak ditemukan pertumbuhan koloni didalamnya.
    • Jumlah bakteri pada udara lebih besar dibandingkan jumlah kapang maupun khamir.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonima. 2009. Sumber Kontaminasi dan Teknik Sanitasi. Available at : http://bos.fkip.uns.ac.id/pub/ono/pendidikan/materikejuruan/pertanian/pengendalian-mutu/sumber_kontaminasi_dan_teknik_sanitasi.pdf (Diakses pada tanggal 19 September 2012).

 

Betty dan Een. 2011. Sanitasi Dan Keamanan Pangan. Jurusan Teknologi Industri Pangan, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Jatinangor

 

Gobel, B. Risco, dkk., 2008. Mikrobiologi Umum Dalam Praktek. Makassar : Universitas Hasanuddin.

 

Lay, Bibiana, W., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Pt Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 

Pelczar, Michael W., 1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi 1, UI Press, Jakarta.

 

Volk, Wesley, A., Margaret F. Whleer, 1998, Mikrobiologi Dasar, Erlangga, Jakarta.

 

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: