Uji Bakteri Amilolitik


Bakteri Amilolitik merupakan mikroorganisme yang mampu memecah pati menjadi menjadi senyawa yang lebih sederhana, terutama dalam bentuk glukosa. Kebanyakan mikroorganisme Amilolitik tumbuh subur pada bahan pangan yang banyak mengandung pati atau karbohidrat, misalnya pada berbagai jenis tepung. Kebanyakan jenis mikroorganisme amilolitik adalah kapang, tetapi beberapa jenis bakteri juga ada, jenis yang mempunyai spesies bersifat Amilolitik misalnya Clostridium butyricium dan Bacillus subtilis (Fardiaz, 1992).

Praktikum kali ini akan dilakukan uji amilolitik dengan menggunakan berbagai jenis sampel tepung, yaitu tepung tapioka, tepung terigu, tepung beras, dan tepung maizena.  Masing-masing sampel (sebanyak 1 gram) diencerkan hingga 10-3, lalu dari pengenceran 10-2 dan 10-3 dituang ke dalam cawan petri. Medium yang digunakan adalah medium NA yang khusus untuk menumbuhkan bakteri. Lalu diinkubasikan selama 2 hari pada suhu 300C.

Pengamatan yang dilakukan setelah inkubasi adalah hitung jumlah koloni, perhitungan SPC, dan pewarnaan gram serta amati warna bakteri, bentuk bakteri dan jenis bakteri gram positif atau negatif. Indikator yang digunakan pada uji amilolitik ini adalah yodium. Yodium 1% diteteskan tepat di atas koloni. Tujuan petetesan larutan yodium 1% diberikan untuk membuktikan apakah bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri amilolitik. Pati yang tidak terhidrolisis akan membentuk warna biru dengan yodium yang menunjukkan tidak terdapatnya enzim amilase yang dihasilkan oleh bakteri selain bakteri amilolitik. Pati yang terhidrolisis di sekeliling koloni akan terlihat areal bening, sebagai akibat aktivitas enzim amilase. Areal berwarna coklat kemerahan di sekeliling koloni menunjukan hidrolisis sebagian terhadap pati .

Menurut Fardiaz (1992), untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan cara hitungan cawan digunakan suatu standar yang disebut Standart Plate Counts (SPC). Ketentuannya adalah sebagai berikut :

  • Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300.
  • Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar di mana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni.
  • Satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni

Menurut Fardiaz (1992), dalam SPC ditentukan cara pelaporan dan perhitungan koloni, diantaranya sebagai berikut :

  • Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu rendah. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan faktor pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada cawan dari dua tingkat pengenceran dihasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan dua, dilaporkan rata-rata dari kedua nilai tersebut dengan memperhitungkan faktor pengencerannya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.
  • Jika digunakan dua cawan petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu. Oleh karena itu, harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan kedua cawan duplo dengan koloni di antara 30 dan 300.

Berdasarkan pangamatan yang dilakukan kelompok 1 dengan sampel Tepung Tapioka, koloni bakteri yang ditetesi dengan yodium berubah menjadi warna cokelat kemerahan. Tetapi pada pengenceran 10-2 ada yang berubah menjadi bening, hal ini menunjukkan bahwa pati yang terhidrolisis di sekeliling koloni akan terlihat areal bening, sebagai akibat aktivitas enzim amilase.  Zona cokelat kemerahan menunjukan bakteri amilolitik yang tumbuh hanya mampu menghidrolisis pati sebagian, dengan kata lain amilosa sudah terhidrolisis dan amilopektinnya belum terhidrolisis, yaitu polimer glukosa kurang dari 20.  Maka yodium bereaksi dengan amilopektin membentuk warna cokelat kemerahan. Bakteri yang tumbuh pada areal bening dan pada zona merah kecoklatan memiliki ciri-ciri spiral dan gram negatif serta kokus dan gram negatif, jika dilihat dari literatur tidak ada bakteri amilolitik yang  memiliki ciri-ciri tersebut, tetapi ketika ditetesi yodium 1%, pati dapat terhidrolisis. Jadi kesimpulan yang dapat diambil adalah terjadi kesalahan ketika melakukan pewarnaan gram dan kemungkinan merupakan bakteri kontaminan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: