Ghibah Yang Diperbolehkan


Assalamu’alaikum… Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ghibah itu diperbolehkan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh syara’ yang mana bila tanpa ghibah tujuan itu tidak akan tercapai.

Ghibah itu diperbolehkan dalam enam keadaan, yaitu:

1. Dalam hal penganiayaan. Orang yang dianiaya itu boleh mengadukan orang yang menganiayanya kepada penguasa atau orang yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menyadarkan tindakan aniaya itu, misalnya orang yang dianiaya itu mengatakan, “Si Fulan menganiaya saya dengan demikian”.

2. Dalam hal minta tolong untuk melenyapkan kemungkaran dan untuk menegur orang yang berbuat kemaksiatan, misalnya seseorang berkata kepada orang yang diharapkan dapat menlenyapkan kemungkaran, dan seandainya tidak dengan maksud untuk melenyapkan kemungkaran maka hal itu diharamkan.

3. Dalam hal minta nasihat, misal ada seseorang berkata kepada orang lain yang dianggap bisa memberi nasihat, “Saya diperlakukan begini oleh ayah, saudara, dan istri saya, atau oleh si Fulan; lantas bagaimana sebaiknya?”

4. Dalam hal memberi peringatan atau nasihat kepada kaum muslimin agar tidak terjerumus ke dalam kejahatan.

5. Dengan terus-terang menegur kefasikan seseorang seperti kepada orang yang meminum minuman keras, orang yang merampas harta orang lain, orang yang menerapkan kebatilan dan sebagainya. Dalam hal ini seseorang boleh berterus-terang menegur tindakannya yang tidak benar itu.

6.  Dalam hal memberi pengertian atau kejelasan, misalnya ada seseorang yang lebih dikenal dengan gelar: “si buta, si tuli, si bisu” dan lain sebagainya. Dalam hal ini seseorang boleh menyebutnya dengan gelar itu; tetapi kalau dengan maksud mengejek atu menghina maka diharamkan. Dan kalu bisa hindarilah gelar-gelar semacam itu.

Inilah enam hal yang telah disepakati oleh para ulama dimana mereka menetapkan pendapatnya dengan berlandaskan hadits-hadits shahih, di antaranya yaitu:

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya ada seseorang minta izin kepada Nabi saw., kemudian beliau bersabda: “Berilah izin orang itu, ia adalah orang yang sangat jahat di tengah-tengah keluarganya”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari ‘Aisyah ra. berkata, Rasulullah saw. Bersabda: “Aku tidak mengira sedikitpun kalau si Fulan dan si Fulan itu mengerahui tentang agama kami”. (Riwayat Bukhari).

Dari Fathimah binti Qais ra. berkata: “Sesungguhnya saya telah dilamar oleh Abi Jahm dan Mu’awwiyah”. Kemudian Rasulullah saw. Bersabda: “Adapun Mu’awiyah maka ia adalah orang miskin yang tidak mempunyai harta kekayaan, dan adapun Abul Jahm maka ia tidak pernah menaruh tongkat dari bahunya (orang yang suka memukul)”. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Adapun Abul Jahm ia adalah orang yang suka memukul istrinya”.

Dari ‘Aisyah ra. berkata: “Hindun yang istri Abu sufyan itu berkata kepada Nabi saw., “Sesungguhnya Abu sufyan adalah seorang suami yang kikir. Ia tidak pernah memberi belanja yang cukup bagi saya dan anak saya kecuali bila saya mengambil tanpa sepengetahuannya”. Beliau bersabda: “Ambillah belanja yang cukup untuk kamu dan anakmu dengan cara yang baik”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Subhanakallahumma wabihamdik asyhaduanla ilaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaiik.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: