Tausiyah Habib Ali – Isra’ Mi’raj Majelis Rasulullah SAW #Part2


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Itulah kalian, yang Rasulullah SAW isyaratkan dalam hadis yang lain, bahwa Rasulullah SAW rindu untuk berjumpa kepada orang-orang beriman, kepada beliau, sebelum beliau melihat Rasulullah SAW, mereka mengorbankan diri mereka, keluarga mereka melebihi dari segalanya yang ada untuk bisa beriman dan bertemu dengan Rasulullah SAW, itulah kalian.

Sungguh kalau seandainya yang sedemikian bersa cintanya kepada Rasul SAW, Rasul SAW mecintai mereka seperti itu, bagaimana dengan kita? yang dicintai Rasul, beriman kepada Rasul tanpa melihat Rasul, Cinta Rasul telah disiapkan dari generasi ke generasi kepada ummatnya yang melewati yang melewati generasi-generasi tanpa melihat beliau. Dan kedatanganku kesini, kehadiran kalian disini dalam cinta kepada Rasul ini, yang membuatku datang dari tempat yang jauh ingin bersatu padu bersama berkumpul dalam jiwa-jiwa yang mencintai Nabi Muhammad bersama kalian saudara-saudariku yang kucintai dan kumuliakan.

Siapa yang hidup dengan kecintaan ini dan dia berjuang dengan akhlaqnya untuk mengikuti jejak sang kekasih Nabi Muhammad SAW, yang beliau mengutarakan dalam hadits yang mulia, bahwa orang-orang yang mencintai beliau akan bersama beliau sebagaimana hadits, “al Mar’u ma’a man ahab” , semua orang akan bersama orang yang dia cintainya yang keluar dari hati dan penuh cinta, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Dengan malam isra’ mi’raj, Rasul SAW sebelumnya melewati hal-hal yang sulit, dicekik, dikejar-kejar. Namun didatangkan kepadanya malaikat penjaga gunung, untuk menindihkan kepada peduduk yang melempari beliau, namun beliau berkata aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang-orang yang beriman. Saudara-saudari ku… beliau mengatakan, ini rahmat dan kasih saying yang seperti ini apabila muncul dari hati seseorang kepada yang memusuhinya dan ingin membunuhnya, akan berubah menjadi kemuliaan di masa mendatang, sebagaimana kejadian yang terjadi dimasa Nabi SAW, beliau orang yang paling dikejar-kejar, dimusuhi, dicari untuk di bunuh. Namun karena rahmat yang mulia, kasih saying yang lembut di hati beliau, mengubah keadaan hingga barat dan timur termuliakan dengan kalimatullah.

Setiap kalian akan mendapat ujian dari Allah, mendapat fitnah dari Allah, barangsiapa yang bisa menahan ujian dari Allah dengan orang-orang yang mengganggu, membuat keburukan kepadanya, dan memfitnahnya, dengan perbuatan yang baik, dengan akhlaq yang mulia sebelum daripada orang-orang yang berbuat baik kepadanya. Kalau dia berpegangan dengan pedoman seperti ini, maka dia telah bersambung dengan “tali” Nabi Muhammad SAW, yang ketika berdarah kakinya, malaikat berkata, “

Aku mengaharap dari mereka, dari keturunan mereka yang menolong agama Allah. Kalau kita sebagai ummat Nabi SAW mempunyai pedoman sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW, kita akan mendapatkan anugrah besar dari Allah dengan berpegangan pada “tali” Nabi SAW. Ketika mendapat ujian, fitnah, gangguan dari orang-orang yang memusuhinya, Rasul SAW malah mendoakan mereka, meminta kepada Allah agar dari keturunan mereka dilahirkan orang yang menolong agama Allah, agama Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah SAW ingin menaiki buraq, buraq itu pertama kali bergetar dan bergerak enggan untuk menerima Rasul SAW. Ini satu ajaran dari Allah, bahwa orang-orang yang akan dipilih sebagai orang pilihan, ia harus bersabar menerima ujian Allah. Sebagaimana Rasul SAW bersabar ketika bergetarnya buraq tidak menerima jasad Nabi SAW. Itu merupakan isyarat bahwa pilihan Allah kepada orang-orang yang terpilih harus melalui dari pintu sabar.

Saudara-saudari yang kumuliakan, ketika kira-kira 2 bulan yang lalu, beliau mengatakan aku berkunjung ke masjidil aqsha, dan aku melihat ada suatu tempat seperti tempat mengikat kuda, dan aku bertanya tempat apa dipojok itu, itu adalah tempat diikatnya buraq ketika akan membawa Nabi SAW ke langit. Maka ditanyakan kepada guru beliau, apa sebabnya buraq harus diikat padahal datangnya dari langit? Ini merupakan pengajaran bagi kita, walaupun makhluk datangnya dari langit sekalipun butuh untuk mempelajari dan mendalami makna kehidupan tanpa meremehkan segala sesuatu yang datangnya dari Allah. Semua butuh usaha dan beramal untuk merubah keadaan kita, bukan meremehkan begitu saja, membiarkan seakan-akan Allah adalah pembantu kita dan mau berbuat sesuai keinginan kita.

Dilapangan masjidil aqsha yang mudah-mudahkan dibebaskan dari tangan-tangan yahudi. Rasul SAW berkumpul degan 124ribu nabi. Ketika seseorang masuk ke masjidil aqsha, dia harus merasakan keagungan perkumpulan para nabi, dengan Sayyidina Muhammad, harus merasakan kenikmatan perkumpulan  para nabi dengan bagianda Rasulullah SAW.

Dan ketika itu pula, aku lihat suatu hamparan batu yang dijadikan sebagai tempat terakhir kali menginjakkan kaki di bumi, di saat itu ada tali-tali besi-besi yang mengikatnya, orang yang bersama beliau mengatakan, “coba sentuhkan tanganmu dibatu itu yang ada bekas telapak kaki sang nabi, sentuhkan. Kau akan merasakan batu itu berbeda dari batu lainnya, batu itu menjadi lembut dan wanginya lebih wangi dari wewangian yang paling wangi.

Sampai sekarang apabila kita masuk ke masjidil aqsha, melihat tempat batu yang melayang. Ketika Rasul SAW ingin mi’raj batu tersebut menyentuh telapak kaki Nabi Muhammad SAW. Terdapat jeruji terbuat dari tembaga, jika kita masukkan tangan kita kedalamnya kita akan merasakan kelembutan kaki Nabi Muhammad SAW yang menyentuh batu tersebut.

Sebagaimana yang telah kita sampaikan dan kita dengar tadi, kertika Rasul SAW selesai dari masjidil aqsha dengan sambutan 124ribu nabi dan Rasul, beliau meneruskan kelangit, dan disetiap pintu langit, beliau disambut dan ditanya oleh penjaga langit, “siapa?”. Berkatalah jibril, “aku Jibril”. “siapa yang bersamamu?”. “Muhammad”. “apakah dia telah diutus?”. “betul”. Maka dibukalah pintu-pintu langit dan mereka bergembira menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Ada pelajaran penting ketika bertemu Jibril AS. dengan para penjaga langit. Penjaga langit bertanya tentang siapa yang ada didepannya yaitu jibril, dan yang bersama itu Muhammad SAW. Itu pelajaran bagi kita ummatnya, bahwa Rasul SAW dan Jibril mengajarkan kecermatan, ketelitian kepada ummatnya Nabi Muhammad SAW. Tidak penting para malaikat bertanya kepada Sayyiduna Jibril. Jibril adalah pemimpin para malaikat Allah, apa faedahnya mereka bertanya kepada Jibril, siapa engkau? Siapa yang engkau bawa? Mereka mengenal Malaikat Jibril dan mengenal Sayyidina Muhammad SAW. Tapi pelajaran besar bagi ummat Nabi Muhammad, bahwa pelajaran yang diambil dari atas langit Allah SWT, tentang kecermatan dan ketelitian dalam beramal itu akan dibawa kedalam dunianya, kedalam kehidupan duniawi, kepada Ummat Muhammad SAW, sebagaimana malaikat cermat bertanya kepada malaikat Jibril AS.

SELENGKAPNYA >>>> klik disini <<<<

  1. alhamdulillah, barakallahu fiikum…

    ditunggu lanjutannya yaa….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: