Beginilah Keadaan “Maula Jawa” (Tuan Penguasa Pulau Jawa) Tiap Malamnya


(Mengenai salaman), saya lebih setuju jamaah bersalaman dg hatinya dg saya, karena hubungan cinta ruhani tak bisa putus, beda dengan jabat tangan yg hanya beberapa detik lalu berpisah dan terlepas..

Namun saya tak berani pula membiarkan tangan seorang muslim terulur pada saya tanpa saya berusaha menyambutnya, saya risau jika saya berlaku begitu maka saya akan diperlakukan hal yg sama oleh Rosul saw kelak jika milyaran tangan terangkat ingin dijabat agar mendapat syafaat beliau saw, maka saya terus bersabar, walau sering terkilir dan sering saya ke cimande untuk ngurut tangan yg terkilir, atau kaki yg menginjak lobang atau trotoar, karena saya tak bisa melihat kaki saya sendiri dimana dilangkahkan dari dahsyatnya desakan, bahkan sering saya tidak tahu arah harus kemana, terkadang pintu masjid malah semakin menjauh dan salah arah, atau saya tak bisa lihat dimana mobil saya hingga saya harus mengarah kemana, subhanalloh..

Dan desakan itu makin dahsyat setiap malamnya, kini sudah banyak yg ingin memeluk dan mencium pula, saya kesal namun haru juga, mereka menangis gembira setelah memelintir leher saya dan menarik kepala saya ke wajahnya, saya ridho, saya senang, asal muslimin puas, apalah artinya tubuh penuh dosa ini hingga seorang muslim bisa menangis gembira karena berhasil memeluk saya?, yg lain menyodorkan botol aqua ke wajah saya, dan wajah saya ditumpahi aqua itu karena saling desak dan kacamata saya basah hingga saya tak melihat apa-apa lagi,

yg lain menyodorkan tasbihnya ke wajah saya agar saya bisa menciumnya dan tidak jarang tasbih kayu itu menyakiti wajah saya, saya hanya berharap ia akan memakainya berdzikir, biarlah wajah ini hancur demi tasbih seorang muslim yg akan dipakainya dzikir,

seandainya mereka minta untuk menginjak pipi saya ditanah agar mereka mau hadir majelis, maka saya akan dengan senang hati melakukannya, saya masuk mobil terengah-engah dan badan bagai hancur, itulah nasib saya setiap malam..

Sudah banyak saran agar saya diborder ketat hingga tak satupun yg bersalaman, jika saya tak perduli pada keadaan saya, maka saya harus pertimbangkan juga bahaya anak-anak kecil bahkan bayi-bayi yg diusungkan pada saya, atau orang-orang tua yg terdesak atau bisa cidera atau terinjak??

Saya masih pertimbangkan..

Saya keberatan dg tugas yg sangat berat ini, saya tak berani berdoa minta umur panjang lagi, jamaah semakin banyak, tiap malam majelis dihadiri 10 ribu hingga 50 ribu jamaah di wilayah sekitar jakarta yg saya kunjungi, ribuan tangan terulur tak bisa saya salami, desakan jamaah, anak-anak terhimpit, orang-orang tua terlempar, ibu-ibu terpental, para kyai tersingkir, semua hanya karena semangat jamaah untuk menyalami,

maka tim pengawalan dari crew kami memang ada, tapi saya selalu menghardik mereka pula agar jangan kasar pd massa, mereka pun berjuang tiap malam membentengi saya dg tdk terlalu ketat, asal saya bisa lewat saja tanpa menghalangi jamaah yg ingin bersalaman, namun usaha demi usaha semakin hari massa semakin banyak, lalu siapa yg akan menanggung dosa ini?

Saya harus berhadapan dg pelbagai golongan masyarakat, diantara hadirin ada para sholihin, ada para kyai dan ulama, ada para habaib, ada para pendosa, pezina, penjudi, narkoba, karyawan, pelajar, pria, wanita, anak kecil, orang tua, lalu saya harus konsentrasi penuh untuk bisa menyampaikan tausiyah yg mengena ke seluruh golongan ini agar semua bisa mendapat manfaat, 1 x setahun saja bertugas seperti ini perlu persiapan berbulan bulan untuk konsentrasi bahan, konsentrasi khusyu, konsentrasi ketenangan jiwa, konsentrasi membaca situasi, bagaimana kalau ini berlangsung tiap malam?

Alloh swt memberi kekuatan pd saya, karena jika tidak maka kepala sudah pecah menahan beban ini semua, namun semakin hari saya semakin suram, bingung, risau, takut..

Mungkin sebagian orang melihat alangkah hebat dan nikmatnya disanjung dan dipuja sedemikian banyak orang, namun pribadi ini sebaliknya, alangkah susah dan beratnya menghadapi sanjungan banyak orang, bagaimana harus menjaga perasaan para ulama yg lebih sepuh yg terlempar saat akan menyalami saya, betapa hancur hatinya, bagaimana perasaan orang yg datang dari jauh-jauh sampai berjam-jam perjalanan menuju majelis, namun saat tangannya terulur ia terdesak jatuh ke kali atau terinjak-injak massa, bagaimana menjaga perasaan orang-orang yg baru saja tergugah untuk tobat, lalu ia menangis memeluk saya dan ia disingkirkan oleh crew karena perbuatan itu membuat ratusan lainnya ingin berbuat hal yg sama,

Satu orang menyodorkan kepalanya dengan membuka pecinya untuk dicium pendosa ini, ratusan lainnya berlompatan pula ingin mendapat hal yg sama.

Sedangkan 1 muslim yg hancur hatinya kecewa bisa membuka pintu kemurkaan Alloh swt, lalu bagaimana nasib pendosa ini..?, apa yg harus saya perbuat..?

Mobil saya bagian kiri sudah penyok2 dan bergurat2 karena dahsyatnya desakan jamaah, sampai pengendara mobil mengadu, kalau habib sudah mendekat ke mobil, maka mobil ini bagai diatas laut terguncang-guncang oleh desakan jamaah, mobil saya sedan, bukan mobil minibus yg mudah bergoyang, mobil berderak-derak bagai ditindih beban berat jika saya sudah mendesak ke mobil, berkali-kali pintunya rusak terkena desakan jamaah, mobil meluncur, anda kira masalah selesai?,

Tangan rapuh ini sudah terasa pedas ditarik2 dan sering luka terkena kuku para pemuda yg mungkin tak sadar perbuatannya melukai saya, dan saya ridho saja, luka itu menghapus dosa ini, biar tangan saya yg luka jangan hati orang itu yg luka..

Saya hanya mengurut-urut tangan di mobil, masalah belum selesai, mereka terus mengejar dg puluhan motor dari belakang, begitu terkena lampu merah, maka mereka turun meninggalkan motornya ditengah jalan berebutan lagi menyalami dari jendela mobil, saya tak tega tak membuka kaca untuk seorang tamu Alloh yg tidak minta apa-apa, cuma minta bersalaman saja, apakah saya berani menolaknya?,

Jika mereka minta nyawa saya untuk mau hadir di majelis sekali saja, saya akan korbankan, jika mereka minta meludahi wajah saya dan menginjak kepala saya ditanah untuk syarat agar mereka mau hadir akan saya lakukan, lalu ini yg diminta cuma ingin bersalaman…..

Apa jadinya?, mobil2 dan motor umum menjadi menonton terheran-heran, sebagian ketakutan, mereka kira ada tawuran, melihat puluhan motor parkir sembarangan di lampu merah dan puluhan orang berlarian di tengah jalan mengejar ke arah mobil saya, lampu hijau sudah menyala, mereka masih malang melintang di tengah jalan untuk menyalami, sebagian menyusul dg motor ingin bersalaman dalam keadaan kendaraan sama-sama berjalan, lalu berteriak-teriak : habib saya cinta habib.., doakan saya.., saya tiap malam hadir majelis habib..,

Begitu nasib saya tiap malam..

Pulang ke rumah tubuh serasa hancur lelah, sedih dan risau pula atas mereka yg kecewa, dan berfikir teringat hari esok hal ini akan terulang lagi, lagi, dan lagi..

Namun jika saya teringat perjuangan Rosul saw, saya trenyuh dan istighfar, Nabi saw dulu orang-orang berebutan dan berdesakan mengejar beliau untuk diludahi wajah beliau saw dan dilempari kotoran binatang dan batu.., lalu kau munzir pendosa mengeluh dengan keadaan ini..?

Saya tak tahu sampai kapan saya bisa bertahan.., tidak tahu harus berbuat apa, berdoa panjang umur atau berdoa segera jumpa Rosul saw..

================================================

disunting oleh Al-Faqir Ahmad Ulul Azmi melalui kalam Habibana Munzir bin Fuad Al-Musawa [RBBT, 09 Oktober 2013 | 23:37 PM]

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: