LAPORAN 10 (Pengujian Bakteri Osmofilik)

VI.       PEMBAHASAN

 

Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian bakteri osmofilik yang telah dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2011.

Mikroorganisme pada umumnya tidak dapat tumbuh lingkungan dengan tekanan osmotik tinggi karena cairan dalam sel bakteri akan berdifusi keluar dan sel akan kisut dan mati. Melihat keadaan tersebut, penggunaan gula sangat tepat sebagai bahan pengawet, karena gula dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan sifat – sifatnya yang dapat mengikat air sehingga menyebabkan dehidrasi bahan pangan dan menurunkan aw bahan pangan, juga dapat meningkatkan tekanan osmotik substrat sehingga menyebabkan sel mikroorganisme mengalami plasmolisis. Oleh karena itu sering dilakukan penambahan gula dalam jumlah besar pada bahan pangan untuk menaikan tekanan osmotik dari bahan pangan tersebut. Tetapi ada mikroorganisme yang tahan hidup  pada lingkungan dengan tekanan osmotik tinggi. Bahkan mikroorganisme ini membutuhkan medium yang terdapat gula dengan konsentrasi minimal tertentu untuk pertumbuhannya bakteri tersebut adalah bakteri osmofilik (Fardiaz, 1992).

Bakteri osmofilik atau sakarofilik tumbuh pada medium dengan konsentrasi gula tinggi, tetapi kebanyakan bakteri yang bersifat osmofilik hanya bersifat osmotoleran yaitu dapat tumbuh dengan atau tanpa konsentrasi gula tinggi, misalnya beberapa spesies dari Leuconostoc (Fardiaz, 1992).

Beberapa kapang juga mampu tumbuh pada lingkungan dengan tekanan osmotik lebih tinggi dari selnya. Diantaranya adalah jenis Aspergillus (Fardiaz, 1992).

Dan pada khamir, kebanyakan khamir tumbuh paling baik pada kondisi dengan persediaan air cukup. Tetapi karena khamir dapat tumbuh pada medium dengan konsentrasi solut (gula atau garam) lebih tinggi daripada bakteri, dapat disimpulkan bahwa khamir membutuhkan air untuk pertumbuhan lebih kecil dibandingkan kebanyakan bakteri (Fardiaz, 1992). Jenis-jenis khamir sering ditemukan pada sirup, bir, roti, dan sebagainya.

Produk-produk pangan berkadar gula tinggi cenderung rusak oleh khamir dan kapang, yaitu kelompok mikroorganisme yang relatif mudah dirusak oleh panas (seperti dalam pasteurisasi) atau dihambat oleh hal-hal lain (Buckle, K. A., dkk., 1985).

            Praktikum kali ini akan dilakukan pengujian bakteri osmofilik dengan menggunakan berbagai jenis sampel, yaitu madu, sirup, susu kental manis, dan sari buah.

Sebanyak 1 ml sampel diencerkan menggunakan 9 ml larutan buffer fosfat sampai pengenceran 10-3. Kemudian sebanyak 1 ml pengenceran 10-2 dan 10-3 di masukkan ke dalam 2 buah cawan petri yang di tambahkan media, cawan 1: PCA dan cawan 2: PCA + 30% sukrosa dengan menggunan metode tuang. Kemudian diinkubasi pada suhu 300C selama 2 hari. Amati jumlah, bentuk dan warna koloninya. Kemudian hitung nilai SPC dan dilanjutkan dengan pewarnaan gram. Setelah dilakukan pewarnaan gram, amati dibawah mikroskop.

Menurut Fardiaz (1992), untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan cara hitungan cawan digunakan suatu standar yang disebut Standart Plate Counts (SPC). Ketentuannya adalah sebagai berikut :

 

  • Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300.
  • Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar di mana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni.
  • Satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni

Menurut Fardiaz (1992), dalam SPC ditentukan cara pelaporan dan perhitungan koloni, diantaranya sebagai berikut :

  • Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu rendah. Oleh karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan faktor pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung.
  • Jika pada cawan dari dua tingkat pengenceran dihasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan dua, dilaporkan rata-rata dari kedua nilai tersebut dengan memperhitungkan faktor pengencerannya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.

Jika digunakan dua cawan petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu. Oleh karena itu, harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan kedua cawan duplo dengan koloni di antara 30 dan 300.

Pengamatan bentuk dan ukuran sel koloni bakteri akan tampak jelas jika dilakukan pewarnaan terhadap sel. Teknik pewarnaan gram harus sesuai prosedur karena dapat mengakibatkan kesalahan identifikasi antara gram positif dan gram negatif.  Teknik pewarnaan gram tersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu atau biru. Dalam proses ini, olesan bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : zat pewarna kristal violet, larutan lugol, larutan alkohol (bahan pemucat) 95%, dan zat pewarna berupa zat warna safranin.

Sebelum dilakukan pewarnaan gram, yang harus dilakukan adalah membuat apusan bakteri terlebih dahulu. Cara membuat apusan bakteri yaitu, pertama nyalakan bunsen terlebih dahulu. Pada setiap pengerjaan mikrobiologi usahakan untuk bekerja didekat bunsen agar lingkungan tetap steril dan menghindari kontaminan. Setelah menyalakan bunsen, sterilkan gelas objek dengan kapas atau tisu yang sudah diberi alkohol 70%. Perhatikan serabut kapas yang ada di gelas objek, jangan sampai tertinggal satu helaipun serabut kapas karena dapat mengganggu pada saat melakukan pengamatan bentuk bakteri di bawah mikroskop. Kemudian lalukan gelas objek di sekitar api bunsen yang menyala untuk memastikan kesterilan gelas objek. Setelah itu oleskan akuades steril terlebih dahulu pada gelas objek dengan menggunakan ose loop setipis mungkin. Kemudian ambil sampel dengan menggunakan ose loop steril pada permukaan media NA. Setelah itu oleskan sampel setipis mungkin pada gelas objek dengan penyebaran yang merata. Kemudian lakukan fiksasi dengan cara melalukan gelas objek di atas api secara cepat.

Setelah apusan bakteri kering dilanjutkan dengan pewarnaan gram. Cara pewarnaan gram yaitu, pertama teteskan pewarna Kristal violet selama satu menit di atas film pada gelas objek. Kemudian bilas dengan akuades dengan cara membilas gelas objek pada posisi miring. Kemudian keringkan setelah kering tetesi dengan lugol selama satu menit lalu bilas kembali dengan akuades dan keringkan. Setelah kering hilangkan warna pada gelas objek dengan menggunakan alkohol 95% selama 10 – 20 detik lalu bilas dengan akuades dan keringkan kembali. Kemudian warnai dengan larutan safranin selama 20 detik lalu bilas dengan akuades dan keringkan dengan kertas serap atau tisu. Setelah pewarnaan selesai, siapkan cover glass dan bersihkan dengan menggunakan kapas atau tisu yang sudah di beri alkohol 70%. Kemudian letakkan cover glass di atas bakteri yang telah di warnai dan lakukan pengamatan di bawah mikroskop. Setelah semuanya dilakukan sesuai prosedur, pewarnaan gram tersebut akan menghasilkan warna merah dan ungu atau biru. Bakteri yang diwarnai dengan pewarnaan gram ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif. Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet sehingga akan terlihat berwarna ungu di bawah mikroskop. Sedangkan bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan pada saat diberi zat pewarna safranin akan tampak berwarna merah. Perbedaan warna ini disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi dinding selnya.

Larutan yang digunakan pada pewarnaan gram memiliki 2 fungsi yaitu ada larutan pengucak dan larutan pembanding. Larutan pengucak adalah alkohol yang berfungsi untuk membersihkan sisa warna yang masih tertinggal dalam sampel yang akan diamati. Sedangkan larutan pembanding ini berfungsi sebagai patokan apakah sampel tersebut mempertahankan Kristal violet atau tidak sehingga dengan adanya larutan pembanding inilah kita bisa menentukan sampel mana yang tergolong gram positif dan gram negatif.

Selanjutnya, penambahan safranin berguna sebagai pewarna pada pengamatan bakteri ini. Hal ini terkait dengan hubungan antara bakteri dan zat pewarna basa yang menonjol yang disebabkan asam nukleat dalam jumlah besar dalam protoplasma sel bakteri. Jadi, jika bakteri diberi warna, muatan negatif dalam asam nukleat bakteri akan bereaksi dengan ion positif dalam zat pewarna basa. Sebaliknya, zat pewarna asam akan ditolak oleh muatan negatif bakteri secara menyeluruh. Jadi, ketika bakteri diolesi dengan zat pewarna, asam akan menghasilkan pewarnaan pada daerah latar belakang saja.

Bakteri gram positif dan gram negatif, didasarkan dari reaksi atau sifat bakteri terhadap warna tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pewarnaan gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel. Bakteri yang digolongkan dalam jenis bakteri gram negatif memiliki lapisan membran yang selapis saja, sedangkan bakteri gram positif memiliki membran yang agak tebal sehingga dapat hidup pada keadaan lingkungan yang ekstrim, seperti pH yang rendah, suhu tinggi dan lain sebagainya. Bakteri yang bersifat patogen pada umumnya adalah bakteri yang digolongkan dalam bakteri yang memiliki gram negative, karena memiliki membran yang tebal dan kuat sehingga bakteri yang bersifat patogen dapat hihup pada keadaan atau lingkungan yang kurang baik. Perbedaan mendasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alkohol memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidoglikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negatif lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3nm).

Hasil pengamatan pengujian bakteri osmofilik dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2, dan Tabel 3.

Tabel 1. Pengamatan Jumlah Koloni Bakteri

Kel

Sampel

PCA

PCA+30% Sukrosa

Nilai SPC

PCA

Nilai SPC PCA+30% Sukrosa

10-2

10-3

10-2

10-3

1

Madu

19

13

9

3

< 3 x 103

(1,9 x 103)

< 3 x 103

(9,0 x 102)

2

Sirup

1

2

< 3 x 103

(2.0 x 102)

3

Susu Kental Manis

3

2

2

< 3 x 103

(3,0 x 102)

< 3 x 103

(2,0 x 102)

4

Sari Buah

10

5

5

< 3 x 103

(1,0 x 103)

< 3 x 103

(5,0 x 102)

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011

Tabel 2. Gambar Pengamatan pada Medium PCA

Kel

Sampel

 

Jumlah Koloni

10-2

10-3

1

Madurasa

Gambar

Keterangan

Basil, ungu, gram positif

Spiral, ungu, gram positif

Dugaan Bakteri

Lactobacillus, Bacillus, Clostridium

Leuconostoc

2

Sirup

Gambar

Keterangan

Basil, merah, gram negatif

Dugaan Bakteri

Flavobacterium, Zymomonas

3

Susu Kental Manis

Gambar

Keterangan

Coccus, merah, gram negatif

Dugaan Bakteri

Pseudomonas, Acetobacter

 

4

Sari Buah

Gambar

Keterangan

Basil, merah, gram negatif

Dugaan Bakteri

Flavobacterium, Zymomonas

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011

 

 

Tabel 3. Gambar Pengamatan pada Medium PCA+30% Sukrosa

Kel

Sampel

 

Jumlah Koloni

10-2

10-3

1

Madurasa

Gambar

Keterangan

Basil, ungu, gram positif

Coccus, ungu, gram positif

Dugaan Bakteri

Lactobacillus, Bacillus, Clostridium

Leuconostoc mesenteroides

2

Sirup

Gambar

Keterangan

Coccus, ungu, gram positif

Dugaan Bakteri

Leuconostoc mesenteroides

3

Susu Kental Manis

Gambar

Keterangan

Coccus, merah, gram negatif

Basil, merah, gram negatif

Dugaan Bakteri

Pseudomonas, Acetobacter

Bacteroides, Escherichia, Enterobacter, Klebsiella

4

Sari Buah

Gambar

Keterangan

Basil, merah, gram negatif

Coccus, merah, gram negatif

Dugaan Bakteri

Flavobacterium, Zymomonas

Pseudomonas, Acetobacter

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011

Susu kental manis diperoleh dengan cara mengurangi kandungan air susu sampai kandungan airnya tinggal 40%. Dengan kadar air yang rendah ini susu dapat tahan di simpan lama dalam keadaan baik. Dugaan bakteri pada susu kental manis adalah Pseudomonas dan Acetobacter. Dugaan bakteri pada sampel madurasa, sirup, dan sari buah dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3.

VII.     KESIMPULAN

 

Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

  • Bakteri osmofilik yang tumbuh pada madurasa adalah jenis Leuconostoc.
  • Bakteri osmofilik yang tumbuh pada sirup adalah Leuconostoc mesenteroides.
  • Bakteri osmofilik yang tumbuh pada susu kental manis adalah jenis Pseudomonas dan Acetobacter.
  • Bakteri osmofilik yang tumbuh pada sari buah adalah jenis Flavobacterium, dan Zymomonas.

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A., dkk. 1985. Ilmu Pangan. UI – Press : Jakarta.

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi pangan I. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: