LAPORAN 5 (Analisis Kuantitatif Pada Bahan Pangan)

VI. PEMBAHASAN

Laporan ini akan membahas hasil praktikum analisis kuantitatif pada bahan pangan yang telah dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2011.

Mutu mikrobiologis dari suatu bahan makanan dapat ditentukan oleh jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pangan. Mutu mikrobiologis ini akan menentukan ketahanan simpan dari produksi tersebut ditinjau dari kerusakan oleh mikroorganisme, dan keamanan produk dari mikroorganisme ditentukan oleh jumlah spesies patogenik yang terdapat serta proses pengawetan apa yang akan diterapkan pada bahan pangan tersebut. Jadi kemampuan untuk mengukur secara tepat jumlah mikroorganisme yang umum terdapat dalam bahan pangan dan jumlah mikroorganisme spesifik yang berada dalam produk pangan merupakan dasar yang penting bagi mikrobiologi pangan (Buckle dkk, 1985). Perhitungan mikroorganisme pada praktikum kali ini dilakukan dengan metode langsung dengan mikroskopik dan metode tidak langsung. Metode langsung yaitu dengan menggunakan metode Petroff Hauser dan metode tidak langsung yaitu dengan menggunakan metode Most Probable Number (MPN).

6.1 Metode Petroff Hauser

Penghitungan secara langsung dapat dilakukan secara mikroskopis yaitu dengan menghitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang sangat kecil. Alat yang digunakan adalah Petroff-Hauser. Jumlah cairan yang terdapat antara cover glass dan alat ini mempunyai volume tertentu sehingga satuan isi yang terdapat dalam satu bujur sangkar juga tertentu.

Ruang hitung terdiri dari 9 kotak besar dengan luas 1 mm². Satu kotak besar di tengah, dibagi menjadi 25 kotak sedang dengan panjang 0,2 mm. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Dengan demikian satu kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Tebal dari ruang hitung ini adalah 0,1 mm.                                      Sel bakteri yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut sehingga jumlah bakteri per satuan volume dapat diketahui (Anonim, 2011).

Gambar. Ukuran kotak pada Petroff-Hauser

(sumber:http://lh5.ggpht.com/_kFz4vOoppxQ/SSKlkEqaXFI/AAAAAAAAAXU/uWco8r4984Q/clip_image01254.jpg)

Berikut ini adalah cara penghitungan luas kotak sedang.

 

Luas kotak sedang = panjang x lebar

= 0,2 x 0,2

= 0,04 mm2

 

Volume kotak sedang = luas x kedalaman

= 0,04 mm2 x 0,1 mm

= 0,004 mm3

 

Karena 1 ml = 1cm2, maka :

= 0,004 mm3

= 0,000004 cm3

= 4×10-6ml

 

Jadi, rumus menghitung jumlah sel/ml dalam kotak sedang adalah :

= jumlah sel/4×10-6ml

= (jumlah sel/4) x 106

= jumlah sel x (¼) x 106

= jumlah sel x 2,5 x 105 atau  jumlah sel x 0,25 x 106

Sebelum memulai praktikum, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan gelas objek dengan menggunakan alcohol 70%. Secara aseptik ambl 1 loop kultur bakteri, diletekkan pada kotak Petroff Hauser yang diletakkan pada gelas objek. Tutup gelas objek dengan kover penutup. Amati dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Amati bakteri pada lima buah kotak sedang yang berbeda. Hitung jumlah bakteri rata-rata dan 25 kotak untuk menghitung bakteri tiap ml bahan.

Praktikum kali ini dilakukan pengamatan dan perhitungan jumlah bakteri dibawah mikroskop pada lima kotak sedang yang letaknya berbeda. Jumlah bakteri pada kotak sedang pertama yang terletak pada sudut kiri atas berjumlah 4 koloni. Jumlah koloni bakteri pada kotak sedang kedua yang terletak pada sudut kiri bawah berjumlah 1 koloni. Jumlah koloni bakteri pada kotak sedang ketiga yang terletak pada sudut kanan atas berjumlah 3 koloni.  Jumlah koloni bakteri pada kotak sedang pertama yang terletak pada sudut kanan bawah berjumlah 2 koloni. Jumlah koloni bakteri pada kotak sedang kelima yang terletak ditengah-tengah kotak besar berjumlah 2 koloni.

Maka diperoleh hasil pengamatan metode Petroff-Hauser sebagai berikut.

Jumlah koloni pada lima kotak sedang berbeda = 4 + 1 + 3 + 2 + 2 = 12

Rata-rata koloni =  = 2,4 koloni

Jumlah sel/ml = 2,4 x 0,25 x 106 = 0,6 x 106 =

Keuntungan metode Petroff-Hauser : Murah dan Cepat.

Kelemahan metode Petroff-Hauser :

  1. Sel mati tidak dapat dibedakan dengan sel hidup (terhitung semuanya).
  2. Sel-sel berukuran sangat kecil sukar dilihat di bawah mikroskop sehingga kadang-kadang tidak terhitung.
  3. Untuk mempertinggi ketelitian maka jumlah sel dalam suspense harus cukup tinggi, misalkan bakteri = 106 sel/ml
  4. Tidak boleh digunakan untuk menghitung mikroorganisme di dalam makanan, banyak mengandung ekstrak makanan.

 

6.2 Metode Most Probable Number (MPN)

Metode MPN umumnya digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada air khususnya untuk mendeteksi adanya bakteri koliform yang merupakan kontaminan utama sumber air minum. Most Probable Number dalam bidang kesehatan masyarakat dari mikrobiologi pangan, dipergunakan secara luas untuk menghitung jumlah bakteri yang ada dalam bahan pangan. Media ini banyak digunakan untuk menghitung bakteri patogenik dalam jumlah sedikit yang terdapat dalam bahan pangan. Metode ini berdasarkan atas pengenceran. Apabila suatu larutan yang mengandung sel-sel mikroorganisme diencerkan terus-menerus, akhirnya akan diperoleh suatu larutan dimana tidak dijumpai sel lagi yaitu dikatakan steril (Buckle dkk, 1985).

Metode MPN menggunakan medium cair dalam tabung reaksi yang berisi tabung durham, dimana perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah tabung reaksi positif, yaitu yang ditumbuhi oleh mikroorganisme setelah diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati terjadinya kekeruhan, terbentuknya gas didalam tabung durham yang diletakkan pada posisi terbalik, sehingga tabung durhamnya naik keatas. Setiap pengenceran pada umumnya digunakan tiga atau lima seri. Lebih banyak tabung yang digunakan menunjukkan ketelitian yang lebih tinggi, tetapi alat gelas yang digunakan juga lebih banyak (Fardiaz, 1992).

Praktikum kali ini dilakukan pengenceran sampai 10-3 pada tiga seri tabung reaksi yang dibagi menjadi Seri A, Seri B dan Seri C. Setiap tabung reaksi berisi tabung durham yang diletakkan pada posisi terbalik. Posisi tabung durham harus terbalik, bertujuan untuk mengetahui dengan jelas terdapatnya gelembung gas atau tidak. Seri A diisi dengan medium NBDS (Nutrient Broth Double Strength) sedangkan Seri B dan Seri C diisi dengan media NBSS (Nutrient broth Single Strength). Perbedaan NBDS dengan NBSS adalah pada dosisnya. Dosis NBDS adalah dua kali lipat dari dosis biasa.

Praktikum kali ini, digunakan 4 sampel, yaitu Mr. Juice, Teh Kita, Jus ABC Jambu, dan Teh Gelas. Sebelum memasukkan sampel kedalam tabung reaksi, pastikan untuk setiap pengerjaannya harus dengan kondisi yang steril, baik lingkungan, tempat kerja, maupun peralatannya. Pastikan juga untuk bekerja didekat api bunsen untuk mencegah adanya kontaminasi mikroorganisme lain. Setelah itu sedot sampel dengan bulb pipet sebanyak 10 ml ke Seri A melalui perantara pipet ukur dan masukkan kedalam tiga tabung reaksi yang telah berisi tabung durham. Setelah itu, pipet lagi sampel sebanyak 1 ml dan masukkan kedalam tabung reaksi Seri B yang berjumlah tiga buah tabung reaksi yang berisi tabung durham. Kemudian yang terakhir pipet lagi sampel sebanyak 0,1 ml dan masukkan kedalam tiga tabung reaksi Seri C yang telah berisi tabung durham. Setelah itu inkubasi semua tabung pada suhu 30-320C selama 2 hari. Pastikan lagi jangan sampai terdapat gelembung pada tabung durham sebelum inkubasi. Setelah di inkubasi selama 2 hari, amati kekeruhan, perubahan warna, endapan, dan gas atau gelembung dalam setiap tabung durham. Kemudian catat tabung positif dari masing-masing pengenceran. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan dan terbentuknya gas di dalam tabung durham. Tetapi jika kekeruhan timbul pada tabung reaksi, sedangkan di dalam tabung durhamnya tidak ada gas, tabung tersebut termasuk tabung negatif. Kemudian cocokkan dengan tabel yang menunjukkan nilai MPN.

Hasil pengamatan perhitungan mikroorganisme dengan menggunakan metode MPN dapat dilihat pada Tabel 1.

Kelompok 3 menggunakan sampel Jus ABC Jambu. Setelah dilakukan pengamatan, pada pengenceran Seri A 10-1 terdapat satu buah tabung positif, pada pengenceran Seri B 10-2 tidak terdapat tabung positif, semua tabung adalah negatif karena tidak terbentuk gelembung pada tabung durham, dan pada pengenceran Seri C 10-3 terdapat satu buah tabung positif. Kombinasinya menjadi 1, 0, 1. Setelah di cocokkan pada tabel yang menunjukkan nilai MPN, nilai MPN sampel air jambu adalah 7.

Kelompok 4 menggunakan sampel Teh Gelas. Setelah dilakukan pengamatan, pada pengenceran Seri A 10-1 terdapat satu buah tabung positif, pada pengenceran Seri B 10-2 semua tabung adalah tabung positif, dan pada pengenceran Seri C 10-3 semua tabung adalah tabung positif. Kombinasinya menjadi 1, 3, 3. Setelah di cocokkan pada tabel yang menunjukkan nilai MPN, nilai MPN sampel air jambu adalah 29.

Kelompok 1 menggunakan sampel Mr. Juice. Setelah dilakukan pengamatan, pada pengenceran Seri A 10-1 semua tabung adalah tabung positif, pada pengenceran Seri B 10-2 semua tabung adalah tabung positif, dan pada pengenceran Seri C 10-3 semua tabung adalah tabung positif. Kombinasinya menjadi 3, 3, 3. Setelah di cocokkan pada tabel yang menunjukkan nilai MPN, nilai MPN sampel air jambu adalah 24 x 102.

Kelompok 2 menggunakan sampel Teh Kita. Setelah dilakukan pengamatan, pada pengenceran Seri A 10-1 semua tabung adalah tabung positif, pada pengenceran Seri B 10-2 semua tabung adalah tabung positif, dan pada pengenceran Seri C 10-3 semua tabung adalah tabung positif. Kombinasinya menjadi 3, 3, 3. Setelah di cocokkan pada tabel yang menunjukkan nilai MPN, nilai MPN sampel air jambu adalah 24 x 102.

VII. KESIMPULAN

Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  • Analisis kuantitatif sangat penting untuk standar keamanan suatu bahan pangan.
  • Mutu mikrobiologis dari suatu bahan makanan dapat ditentukan oleh jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pangan.
  • Perhitungan mikroorganisme dapat dilakukan dengan metode langsung yaitu dengan menggunakan metode Petroff Hauser dan metode tidak langsung yaitu dengan menggunakan metode Most Probable Number (MPN).
  • Salah satu kekurangan menggunakan metode Ptroff Hauser pada perhitungan mikroorganisme adalah sel mati tidak dapat dibedakan dengan sel hidup (terhitung semuanya).
  • Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan dan terbentuknya gas di dalam tabung durham.

DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A., dkk. 1985. Ilmu Pangan. UI – Press : Jakarta

Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Anonim. 2011. Perhitungan Koloni Mikroba pada TPC dan MPN.  http://abangtamiang.blogspot.com/2011/01/perhitungan-koloni-mikroba-pada-tpc-dan_26.html (diakses pada tanggal 20 Maret 2011)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: