LAPORAN 5 (Pengujian Aktivitas Antimikroorganisme Dari Bahan Pengawet Alami)

VI.       PEMBAHASAN

 

Laporan ini akan membahas hasil praktikum pengujian aktivitas antimikroorganisme dari bahan pengawet alami yang telah dilaksanakan pada tanggal 3 Oktober 2011.

Antimikroba adalah senyawa biologis atau kimia yang dapat mengganggu pertumbuhan dan aktivitas mikroba, khususnya mikroba perusak dan pembusuk makanan. Zat antimikroba dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri), bakteristatik (menghambat pertumbuhan bakteri), fungisidal (membunuh kapang), fungistatik (menghambat pertumbuhan kapang), ataupun germisidal (menghambat germinasi spora bakteri).

 

Mekanisme Kerja Penghambatan Senyawa Antimikroba

Keefektifan penghambatan merupakan salah satu kriteria pemilihan suatu senyawa antimikroba untuk diaplikasikan sebagai bahan pengawet bahan pangan. Semakin kuat penghambatannya semakin efektif digunakan. Kerusakan yang ditimbulkan komponen antimikroba dapat bersifat mikrosidal (kerusakan tetap) atau mikrostatik (kerusakan sementara yang dapat kembali). Suatu komponen akan bersifat mikrosidal atau mikrostatik tergantung pada konsentrasi dan kultur yang digunakan.

Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, (2) peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, (3) menginaktivasi enzim, dan (4) destruksi atau kerusakan fungsi material genetik.

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar komponen di dalam rempah-rempah bersifat sebagai antimikroba, sehingga dapat mengawetkan makanan. Rempah-rempah adalah tanaman atau bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kering. Sebagian besar rempah-rempah mempunyai daya guna ganda yaitu untuk meningkatkan aroma dan cita rasa produk yang dihasilkan serta digunakan untuk bahan dasar ramuan obat-obat tradisional. Rempah-rempah yang digunakan dalam kegiatan pengolahan makanan sehari-hari dengan konsentrasi biasa tidak dapat mengawetkan makanan tetapi pada konsentrasi tersebut rempah-rempah dapat membantu bahan-bahan lain yang dapat mencegah pertumbuhan mikroba pada makanan. Setiap jenis senyawa antimikroba mempunyai kemampuan penghambatan yang khas untuk satu jenis mikroba tertentu (Frazier dan Westhoff, 1988). Beberapa jenis rempah-rempah yang diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang cukup kuat adalah bawang merah, Bawang putih, cabe merah, jahe, kunyit dan Lengkuas. Dalam percobaan kali ini rempah-rempah yang digunakan adalah kunyit dan lengkuas.

Pada percobaan kali ini mikroorganisme yang digunakan E. Coli (Escherichia coli). Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang dapat digunakan untuk menunjukkan adanya masalah sanitasi (indikator sanitasi). Bakteri indikator sanitasi adalah bakteri yang keberadaannya dalam pangan menunjukkan bahwa air atau makanan tersebut pernah tercemar oleh kotoran manusia. Karena bakteri-bakteri indikator sanitasi tersebut pada umumnya adalah bakteri yang lazim terdapat dan hidup pada usus manusia. Jadi adanya bakteri tersebut pada air atau makanan menunjukkan bahwa dalam satu atau lebih tahap pengolahan air atau makanan tersebut pernah mengalami kontak dengan kotoran yang berasal dari usus manusia dan oleh karenanya mungkin mengandung bakteri patogen lainnya yang berbahaya. E coli adalah bakteri gram negatif berbentuk batang yang tidak membentuk spora dan merupakan flora normal di usus. Meskipun demikian, beberapa jenis E coli dapat bersifat patogen, yaitu serotipe-serotipe yang masuk dalam golongan E coli Enteropatogenik, E coli Enteroinvasif, E coli Enterotoksigenik, dan E coli Enterohemoragik.

Kunyit termasuk kelompok jahe-jahean, bagian tanaman ini yaitu rimpangnya sering dijadikan bumbu. Kandungan minyak atsiri dalam kunyit berjumlah 5% terdiri dari turmerol, borneol, cinerol, felandren, kurkumin dan zingeron (Farrel, 1990). Amoxicillin merupakan antibiotika yang paling laku di seluruh dunia. Obat yang mempunyai nama generik Amoxicillin ini mempunyai nama paten yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Penmox, Intermoxyl, Ospamox, Amoxsan, Hufanoxyl, Yusimox merupakan beberapa nama dagang/paten dari antibiotika ini.

Amoxicillin adalah antibiotika yang termasuk ke dalam golongan penisilin. Obat lain yang termasuk ke dalam golongan ini antara lain Ampicillin, Piperacillin, Ticarcillin, dan lain lain. Karena berada dalam satu golongan maka semua obat tersebut mempunyai mekanisme kerja yang mirip. Obat ini tidak membunuh bakteri secara langsung tetapi dengan cara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan yang melekat disekujur tubuhnya. Lapisan ini bagi bakteri berfungsi sangat vital yaitu untuk melindungi bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri tidak tercerai berai. Bakteri tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya lapisan ini. Amoxicillin sangat efektif untuk beberapa bakteri seperti H. influenzaeN. gonorrhoeaE. coliPneumococci, Streptococci, dan beberapa strain dari Staphylococci.

Sesuai dengan mekanisme kerja diatas maka Amoxicillin seharusnya memang digunakan untuk mengobati penyakit penyakit yang disebabkan oleh kuman kuman yang sensitif terhadap Amoxicillin. Beberapa penyakit yang biasa diobati dengan Amoxicillin antara lain infeksi pada telinga tengah, radang tonsil, radang tenggorokan, radang pada laring, bronchitis, pneumonia, infeksi saluran kemih, dan infeksi pada kulit. Amoxicillin juga bisa digunakan untuk mengobati gonorrhea.

Dalam percobaan, bahan pengawet seperti kunyit dan Amoxicilin dihancurkan dan dilarutkan dengan akuades yang telah disterilkan. Kemudian masukkan paper disc  berbentuk bulat yang telah distrerilkan didalam oven ke dalam larutan kunyit dan lengkuas tadi. Lalu disiapkan media dalam cawan petri yang telah di swab dengan bakteri E. Coli. Ambil satu paper disc yang telah direndam di dalam masing-masing larutan kunyit dan Amoxicilin dengan menggunakan pinset. Tempelkan paper disc tersebut di atas permukaan agar dalam cawan petri tadi yang berisi media agar yang telah di swab dengan bakteri E. Coli. Kemudian cawan tersebut di inkubasi pada suhu 37oC selama 2 hari. Hasil pengamatannya dapat dilihat pada Tabel 1.

 

 

Tabel 1. Hasil Pengamatan Aktivitas Antimikroba dari Bahan Alami

Kelompok

Jarak daerah bening

Gambar

1

(Ketumbar)

Tidak terbentuk daerah bening

2

(Lengkuas)

Tidak terbentuk daerah bening

3

(Bawang Merah)

Jarak terlalu pendek sehingga tidak bisa diukur

4

(Kencur)

Jarak terlalu pendek sehingga tidak bisa diukur

5

(Jahe)

Jarak terlalu pendek sehingga tidak bisa diukur

6

(Amoxilin)

1 mm

7

(Bawang Putih)

1 mm

0,5 mm

8

(Garam)

Jarak terlalu pendek sehingga tidak bisa diukur

9

(Kunyit)

Tidak terbentuk daerah bening

10

(Temulawak)

Jarak terlalu pendek sehingga tidak bisa diukur

(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2011)

 

Antimikroba juga terdapat dalam bentuk obat. Salah satunya adalah obat antibiotika. Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (wikipedia.com, 2008). Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi/ jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Jenis antibiotika yang digunakan adala amoxilin. Amoxilin itu adalah nama dagang dari obat antibiotik golongan penisilin sub golongan amoksisilin, yaitu amoksisilin trihidrat. Obat golongan ini bekerja sebagai broad-spectrum (dapat digunakan untuk membunuh bakteri gram positif dan negatif), seperti salmonella, shigella dan lainnya.

Dalam percobaan kali ini akan diamati zona terang pada media yang dibentuk oleh masing-masing zat antimikroba. Dari percobaan yang dilakukan,  hanya kelompok 6 dan 7 yang mendapatkan hasil diameter untuk Amoxilin yaitu 1 mm sehingga Amoxilin dikategorikan sebagai zat antimikroba yang sensitive yaitu dimana zat ini dapat menghambat bahkan membunuh pertumbuhan bakteri atau disebut bakterisidal. Sedangkan kunyit dikategorikan sebagai zat antimikroba yang intermediate maksudnya adalah bahwa zat antimikroba ini hanya tahan terhadap adanya bakteri atau hanya dapat menghambat tanpa dapat membunuh pertumbuhan bakteri.

 

 

VII.     KESIMPULAN

 

Kesimpulan dari praktikum pengujian aktivitas antimikroorganisme dari bahan pengawet alami adalah sebagai berikut:

  • Antimikroba adalah senyawa biologis atau kimia yang dapat mengganggu pertumbuhan dan aktivitas mikroba, khususnya mikroba perusak dan pembusuk makanan.
  • Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, (2) peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, (3) menginaktivasi enzim, dan (4) destruksi atau kerusakan fungsi material genetik.
  • Dari percobaan yang dilakukan, hanya kelompok 6 dan 7 yang mendapatkan zona bening,yaitu berdiameter untuk Amoxilin yaitu 1 mm sehingga Amoxilin dikategorikan sebagai zat antimikroba yang sensitive yaitu dimana zat ini dapat menghambat bahkan membunuh pertumbuhan bakteri atau disebut bakterisidal.
  • Kunyit dikategorikan sebagai zat antimikroba yang intermediate maksudnya adalah bahwa zat antimikroba ini hanya tahan terhadap adanya bakteri atau hanya dapat menghambat tanpa dapat membunuh pertumbuhan bakteri.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim1. 2011.  Amoxilin.. Didapatkan dari situs http://www.mediasehat.com/tanyajawab147   (Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011).

Anonim2. 2011.  Antibiotika.. Didapatkan dari situs http://www.medicastore.com   (Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011).

Anonim3. 2011. Antibiotika. Didapatkan dari situs http://id.wikipedia.org/wiki/Antibiotika  (Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011).

Anonim4. 2011. Kunyit, Si Kuning yang Kaya Manfaat. Didapatkan dari situs http://evibangkok.multiply.com/journal/item/7/Manfaat_Kunyit   (Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011).

Ardiansyah. 2007. Antimikroba dari Tumbuhan (Bagian kedua). Didapatkan dari situs http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-06-09-Antimikroba-dari-Tumbuhan-(Bagian-Kedua).shtml (Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011).

Dewanti, Ratih dan Hariyadi. 2005. Bakteri Indikator Sanitasi dan Keamanan Air Minum. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Didapatkan dari situs http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_fdsf_bctrindktr.php (Diakses pada tanggal 15 Oktober 2011).

Fardiaz, Srikandi.1992. Mikrobiologi Pangan I. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama bekerjasama dengan PAU Pangan dan Gizi IPB, Jakarta.

 
 

 

JAWABAN PERTANYAAN

 

  1. 1.   Seberapa besar efektifitas ekstrak kunyit sebagai antimikroba alami bila dibandingkan dengan Penicillin?

Jawab :

Efektifitas ekstrak kunyit sebagai zat antimikroba lebih tinggi dibandingkan penicilin. Karena pada kedua penicilin tidak ada zona bening.

 

  1. 2.   Diskusikan kesulitan-kesulitan yang dialami saat menguji efektivitas antimikroba menggunakan metode Kirby-Bauer!

Jawab :

     Kesulitan-kesulitan yang dialami saat menguji efektivitas antimikroba menggunakan metode Kirby-Bauer yaitu pada saat memasukkan paper disc ke dalam cawan petri yang berisi kultur mikroba karena paper disc tersebut sangat kecil. Selain itu, juga pada saat mengamati luas area zona terang karena zona terangnya terlihat kurang jelas. Tetapi setelah diperhatikan lagi dengan seksama, zona terang tersebut akhirnya terlihat.            

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: